Harimau Sumatera Kembali Memakan Korban di Riau, BBKSDA Pasang Perangkap dan Kamera
Baca dalam 60 detik
- Seekor harimau sumatera diduga telah menewaskan dua orang di area konsesi HTI di Pelalawan, Riau, dengan selang waktu hanya tiga hari.
- BBKSDA Riau memasang dua perangkap dan enam kamera untuk memantau pergerakan harimau, serta mengerahkan tim penyelamat satwa liar.
- Pihak berwenang mendesak perusahaan dan pekerja di sekitar habitat harimau untuk memperketat SOP keselamatan dan menghindari aktivitas sendirian di malam hari.

Serangan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali merenggut nyawa di Riau, menimbulkan kekhawatiran baru bagi pekerja perkebunan dan warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan konsesi. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat dengan memasang perangkap dan kamera pengintai setelah seekor harimau jantan diduga menjadi dalang di balik dua kematian dalam waktu berdekatan di Kabupaten Pelalawan.
Korban terbaru adalah Eko Prasetio, seorang pekerja di area Hutan Tanaman Industri (HTI) di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan. Ia ditemukan tewas pada 10 Juli lalu, hanya tiga hari setelah serangan pertama yang menewaskan seorang gadis berusia 12 tahun, Jerlin Zalkhu, pada 7 Juli. Pelaksana Tugas Kepala BBKSDA Riau, Laskar Jaya Permana, mengungkapkan bahwa lokasi serangan kedua berada di sebuah kamp pekerja yang berjarak sekitar 6,5 kilometer dari tempat tinggal keluarga Jerlin.
“Sejak serangan pertama, BBKSDA Riau telah mengerahkan Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk menangani dan memantau keberadaan harimau,” ujar Laskar pada Selasa (14/7). Namun, ia menyayangkan bahwa warga dan pekerja masih mengabaikan larangan untuk beraktivitas sendirian di malam hari. Eko, warga Kecamatan Kampar Kiri, pada malam nahas itu pamit kepada rekannya, Rofi Hudzil Affa, untuk mencari sinyal ponsel guna mengirim agenda kerja melalui grup WhatsApp sekitar pukul 19.15. Sinyal yang sulit dijangkau memaksanya berjalan menjauh dari kamp.
Hingga tengah malam, Eko tak kunjung kembali. Rekan-rekannya bersama petugas keamanan perusahaan melakukan pencarian dan menemukan sandal serta ponsel Eko di lokasi yang biasa digunakan pekerja untuk menelepon. Jejak darah, bekas tubuh terseret ke semak-semak, dan tapak harimau sumatera ditemukan di sekitar tempat itu. Tim gabungan yang tiba pukul 02.52 WIB segera melakukan observasi dan mengidentifikasi jejak. “Ditemukan tapak harimau sumatera berukuran 16 x 15 sentimeter yang menjauhi lokasi penemuan barang korban,” kata Laskar. Pencarian diperluas hingga radius 3 kilometer menggunakan drone termal dan lampu sorot, namun dihentikan sementara pukul 04.00 WIB karena keterbatasan jarak pandang.
Pencarian dilanjutkan pagi harinya dan jasad Eko ditemukan sekitar pukul 07.00 WIB di area hutan sabuk hijau (greenbelt) HTI, sekitar 650 meter dari tempat ia menelepon. “Korban ditemukan tewas di semak-semak dengan beberapa luka gigitan dan cakaran, serta beberapa bagian tubuh hilang,” jelas Laskar. Jenazah kemudian dievakuasi ke klinik perusahaan sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di Kampar Kiri.
BBKSDA belum dapat memastikan apakah harimau yang menyerang Eko adalah individu yang sama dengan yang menyerang Jerlin, karena terdapat lebih dari satu harimau di wilayah tersebut. Namun, berdasarkan ukuran tapak yang ditemukan di kedua lokasi, kuat dugaan bahwa pelakunya adalah hewan yang sama. Hasil analisis sementara menunjukkan harimau tersebut adalah jantan berusia sekitar tiga tahun. “Tim masih melakukan analisis lebih mendalam untuk memastikan apakah hewan pada serangan terakhir adalah individu yang sama atau berbeda dari kejadian sebelumnya,” ujar Laskar. Hasil analisis akan digunakan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Selain pemasangan perangkap, pemilik konsesi HTI diwajibkan menerapkan prosedur operasi standar (SOP) yang ketat untuk melindungi pekerja, sesuai instruksi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Pekerja telah dievakuasi dari kamp di lokasi serangan, namun masih ada pekerja di kamp lain,” kata Laskar. Ia menekankan agar semua perusahaan yang beroperasi di sekitar habitat harimau sumatera menerapkan SOP yang ketat dan memperkuat keamanan kamp pekerja. Warga dan pekerja juga diminta meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas sendirian terutama di malam hari, dan segera melapor jika melihat satwa liar.
Kejadian ini menjadi pengingat akan meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar di Riau, seiring menyusutnya habitat harimau akibat deforestasi dan perluasan perkebunan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah langkah pemasangan perangkap dan kamera cukup efektif untuk mencegah korban jiwa berikutnya, atau diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan kawasan konsesi dan perlindungan satwa dilindungi?



