Legenda Produser Hong Kong Shi Nan-sun Tutup Usia, Industri Film Kehilangan Tokoh Besar
Baca dalam 60 detik
- Produser film legendaris Hong Kong, Shi Nan-sun, meninggal dunia pada usia 75 tahun akibat infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan multi-organ.
- Shi dikenal sebagai pendiri Film Workshop dan Distribution Workshop, yang membawa film Hong Kong ke panggung internasional.
- Para bintang film seperti Jackie Chan dan Brigitte Lin, serta Menteri Kebudayaan Hong Kong, memberikan penghormatan atas kontribusinya yang luar biasa.

Industri film Hong Kong kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh setelah produser veteran Shi Nan-sun meninggal dunia pada Senin malam di Rumah Sakit Sanatorium Hong Kong. Wanita berusia 75 tahun itu mengembuskan napas terakhir akibat komplikasi infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan fungsi organ, dikelilingi oleh keluarga dan kerabat terdekat.
Shi adalah pendiri Film Workshop, rumah produksi yang melahirkan sederet film klasik seperti trilogi A Chinese Ghost Story, seri Once Upon a Time in China, Black Mask, The Legend of Zu, dan Infernal Affairs. Bersama mantan suaminya, sutradara kenamaan Tsui Hark, ia membangun reputasi sebagai produser yang tak hanya piawai dalam urusan kreatif, tetapi juga administrasi, pendanaan, negosiasi kontrak, hingga distribusi internasional.
Kabar duka ini memicu gelombang penghormatan dari para bintang papan atas. Jackie Chan melalui akun Weibo-nya menyebut dunia perfilman telah kehilangan "sosok legendaris lainnya". Aktris Carina Lau mengenang kebijaksanaan yang dipelajarinya dari Shi, sementara Brigitte Lin—sahabat dekat selama lebih dari 50 tahun—menulis penghormatan di media sosial pada dini hari Selasa. "Sebagai sahabat terbaiknya, cara terbaik membalas budi adalah mengikuti teladannya dan meneruskan energi positif kepada orang lain," tulis Lin.
Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Hong Kong, Rosanna Law Shuk-pui, secara resmi menyampaikan belasungkawa. Ia menyebut Shi sebagai produser terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan jangka panjang industri film lokal. "Ia mendedikasikan hidupnya untuk industri film dan televisi, meninggalkan kenangan sinematik yang berharga bagi warga Hong Kong," ujar Law.
Shi memulai kariernya di televisi setelah menempuh pendidikan statistik dan komputasi di Polytechnic of North London, Inggris. Pada 1981, ia bergabung dengan Cinema City sebagai direktur eksekutif, kemudian mendirikan Film Workshop tiga tahun berselang. Lewat Distribution Workshop, ia membuka pintu bagi film-film Hong Kong untuk menembus pasar global dan berperan sentral dalam memprofesionalkan bisnis perfilman setempat.
Pernikahannya dengan Tsui Hark pada 1996 bertahan selama 18 tahun sebelum bercerai pada 2014. Meski demikian, keduanya tetap menjalin persahabatan erat dan saling mendukung dalam proyek sinematik. Tsui, yang menemani Shi hingga akhir, mengatakan bahwa sang produser melawan penyakit dengan ketangguhan luar biasa hingga sistem imunnya benar-benar runtuh. "Ia bertahan dengan berani sampai detik terakhir, meninggal dengan tenang dikelilingi keluarga dan teman. Ia sangat berterima kasih atas perhatian dan doa semua orang," kata Tsui saat meninggalkan rumah sakit.
Penghormatan juga datang dari Donnie Yen, Shu Qi, dan sejumlah nama besar lainnya. Pada 2025, Shi dan Tsui bersama-sama menerima penghargaan seumur hidup di Hong Kong Film Awards. Jejaknya sebagai produser yang membawa film Hong Kong ke panggung dunia—dari Locarno hingga menjadi juri festival internasional—akan terus dikenang.
Bagi industri film Indonesia, kepergian Shi menjadi pengingat akan pentingnya sosok produser yang memiliki visi global dan kemampuan membangun jembatan antara pasar lokal dan internasional. Pertanyaannya, siapakah yang akan meneruskan warisan profesionalisme dan dedikasi yang telah ia tunjukkan selama lebih dari empat dekade?



