Robert Englund: Humor Kunci Horor, Jangan Biarkan Penonton Tertawakan Anda
Baca dalam 60 detik
- Aktor Freddy Krueger, Robert Englund, menekankan humor sebagai alat vital dalam film horor untuk mengatur emosi penonton.
- Dalam film horor terbaru 'Pinocchio Unstrung', Englund mengisi suara Cricket dan menikmati dialog jenaka serta makian.
- Englund berharap dongeng gelap seperti Hansel & Gretel dan Rumpelstiltskin diadaptasi ke layar lebar.

Robert Englund, aktor legendaris yang identik dengan karakter Freddy Krueger dalam waralaba A Nightmare on Elm Street, kembali dengan peran baru yang tak kalah menarik. Kali ini, ia mengisi suara tokoh Cricket dalam film horor Pinocchio Unstrung, sebuah tafsir kelam dari dongeng klasik anak-anak. Menurut Englund, humor bukan sekadar pelengkap dalam film horor, melainkan elemen krusial yang mencegah penonton menertawakan film โ bukan tertawa bersama film.
Dalam wawancara dengan ComingSoon.net, Englund menjelaskan bahwa tanpa humor, penonton yang sudah terpacu adrenalin oleh adegan kekerasan dan gore justru akan meledak dalam tawa yang sinis. โJika hanya ada darah, kekerasan, dan aksi, penonton akan mulai menertawakan Anda, bukan bersama Anda,โ ujarnya. Humor berfungsi sebagai katup pelepas tekanan, mengembalikan emosi penonton ke titik nol, sehingga sutradara bisa membangun ketegangan lagi untuk adegan berikutnya. Englund mengaku senang bisa melontarkan kalimat-kalimat jenaka dan makian dalam film ini.
Pinocchio Unstrung mengisahkan Pinocchio yang melancarkan โperang salib brutalโ untuk mengukir dirinya menjadi anak sungguhan, satu per satu bagian tubuh. Film ini dijadwalkan rilis akhir bulan ini. Englund, yang sudah puluhan tahun berkarier di genre horor, melihat peluang besar dalam eksplorasi dongeng-dongeng gelap. Ia menyebut Hansel & Gretel sebagai contoh sempurna: kisah tentang orang tua miskin yang mengusir anak-anak saat kelaparan, lalu anak-anak itu berhalusinasi melihat rumah dari makanan. โItu benar-benar gelap,โ katanya.
Englund juga berhati-hati agar suara Cricket tidak terdengar seperti Freddy Krueger. Ia khawatir terjebak dalam memori otot dan tanpa sengaja melontarkan tawa khas Freddy. โSaya ingin menciptakan tawa Cricket sendiri โ lebih tinggi, lebih histeris, seolah kita bisa melihat sedikit psikosisnya,โ jelasnya. Upaya ini menunjukkan dedikasinya pada karakterisasi yang segar, meski tetap dalam genre yang sama.
Di Indonesia, genre horor memiliki basis penggemar yang besar, namun humor dalam horor masih jarang dieksplorasi secara maksimal. Film horor lokal cenderung mengandalkan jumpscare dan mitos mistis. Pendekatan Englund bisa menjadi pelajaran bagi sineas Tanah Air: humor bukanlah pengganggu, melainkan alat untuk memperkuat ketegangan. Dengan kata lain, horor yang cerdas adalah horor yang bisa membuat penonton tertawa โ lalu berteriak lagi.
Ke depan, Englund berharap industri film horor lebih berani menggali dongeng-dongeng klasik yang gelap. โRumpelstiltskin kejam dan gelap. Itu yang seharusnya mereka buat berikutnya,โ ujarnya. Pertanyaannya, mampukah para pembuat film โ termasuk di Indonesia โ menangkap esensi horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga cerdas dan menghibur?



