Lentera Ikan Mas Hiasi Kota Tua Yanai, Pesona Wisata Malam Jepang
Baca dalam 60 detik
- Ribuan lentera ikan mas tradisional menerangi kawasan bersejarah Yanai, Yamaguchi, menciptakan daya tarik wisata malam yang unik.
- Perhelatan tahunan ini menghidupkan kembali arsitektur khas Edo dengan dinding putih dan gudang tradisional.
- Fenomena serupa dapat menjadi inspirasi bagi destinasi heritage di Indonesia untuk mengembangkan atraksi serupa.

Ribuan lentera berbentuk ikan mas menyala lembut di sepanjang jalan berbatu Kota Yanai, Prefektur Yamaguchi, Jepang, mengubah kawasan bersejarah itu menjadi galeri cahaya yang memukau wisatawan. Pemandangan tersebut terabadikan pada 11 Juli 2026, saat para pengunjung berjejer mengabadikan momen di bawah gemerlap lentera tradisional yang dikenal sebagai Yanai goldfish lantern.
Kawasan yang dijuluki “white-walled streetscape” ini merupakan saksi bisu kejayaan masa lalu, dengan deretan rumah pedagang bergaya gudang berplester putih yang masih mempertahankan atmosfer zaman Edo. Pada malam hari, lentera-lentera tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penerang, tetapi juga menjadi medium yang menghidupkan kembali narasi sejarah melalui cahaya dan bayangan.
Fenomena ini menarik perhatian tidak hanya karena nilai estetikanya, tetapi juga karena dampaknya terhadap ekonomi lokal. Menurut data pariwisata setempat, kunjungan ke Yanai meningkat signifikan selama festival lentera, yang biasanya berlangsung dari awal Juli hingga akhir Agustus. Para pelaku usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan menikmati lonjakan pendapatan dari penjualan suvenir dan kuliner khas.
Bagi Indonesia, tradisi serupa dapat menjadi referensi dalam mengelola kawasan cagar budaya. Kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, atau Bukittinggi memiliki potensi besar untuk mengadakan festival cahaya yang mengangkat kearifan lokal, misalnya dengan menggunakan lampion khas atau obor tradisional. Langkah ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mendorong pariwisata berkelanjutan yang berbasis komunitas.
Menurut pengamat pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andi Rahmat, pendekatan Jepang dalam mengintegrasikan seni cahaya dengan arsitektur bersejarah patut dicontoh. “Mereka tidak sekadar memasang lampu, tetapi menciptakan narasi visual yang membuat pengunjung merasa seperti melangkah ke masa lalu. Ini adalah bentuk edutainment yang efektif,” ujarnya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian. Jika terlalu banyak wisatawan, beban infrastruktur dan keaslian situs bisa terancam. Namun, dengan perencanaan yang matang, festival lentera Yanai membuktikan bahwa warisan budaya dapat menjadi mesin ekonomi tanpa kehilangan jiwa.



