Astamaops Kapolri: Layanan 110 Bukan Sekadar Angkat Telepon, Tapi Pastikan Masalah Selesai
Baca dalam 60 detik
- Komjen Pol M. Fadil Imran mendorong transformasi layanan 110 dan command center agar berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat, bukan sekadar menjawab panggilan.
- Polresta Sorong Kota mencatat success call rate 88,18% pada semester I 2026, naik dari 80,37% tahun 2025, namun Fadil menekankan pentingnya tindak lanjut di lapangan.
- Data kamtibmas harus digunakan untuk pemetaan patroli preventif, dengan curanmor sebagai kejahatan dominan (613 kasus pada 2025).

Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol M. Fadil Imran menegaskan bahwa transformasi pelayanan kepolisian tidak boleh berhenti pada peningkatan jumlah panggilan yang terangkat. Dalam kunjungan ke Polresta Sorong Kota, Papua Barat Daya, Kamis (16/7), ia mendorong integrasi Layanan Polisi 110, Command Center, SPKT, Samapta, dan fungsi patroli untuk memastikan setiap laporan masyarakat benar-benar ditindaklanjuti hingga tuntas.
Fadil mengapresiasi capaian Polresta Sorong Kota yang mencatat success call rate 88,18 persen pada JanuariโJuni 2026, meningkat dari 80,37 persen di tahun 2025. Dari 3.392 panggilan masuk, 2.672 berhasil dijawab, menempatkan Polresta Sorong Kota di posisi kedua jajaran Polda Papua Barat Daya. Namun, ia mengingatkan bahwa indikator keberhasilan tidak cukup pada angka tersebut.
"Telepon terjawab adalah awal dari pelayanan, bukan akhir. Yang harus kita pastikan adalah setelah masyarakat menyampaikan masalahnya, siapa yang bergerak, berapa lama polisi sampai, dan apakah persoalan masyarakat benar-benar tertangani," ujar Fadil dalam arahannya.
Ia meminta jajaran mengukur waktu respons secara bertahap, mulai dari laporan diterima, penugasan personel, hingga kedatangan di lokasi. Pengukuran ini dinilai krusial untuk mengidentifikasi titik lemah dalam rantai pelayanan. Fadil juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu memahami struktur internal kepolisian; tugas polisi adalah memastikan setiap kebutuhan warga diteruskan ke personel yang paling tepat dan paling cepat.
Lebih jauh, Fadil memperkenalkan paradigma baru tentang Command Center. Menurutnya, pusat komando tidak boleh dipandang sekadar ruangan dengan layar besar dan teknologi mahal. "Hakikat Command Center adalah bagaimana kita menerima informasi, memahami masalah, mengambil keputusan, menggerakkan anggota, dan memastikan masalah masyarakat ditangani," jelasnya. Ia meminta jajaran tidak menunggu fasilitas lengkap untuk mulai membangun sistem pelayanan yang efektif. Cukup dengan operator siap, radio terhubung, data personel, dan pimpinan yang mampu mengambil keputusan cepat.
Selain respons cepat, Fadil mendorong pemanfaatan data gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) untuk strategi pencegahan. Data DORS Polri menunjukkan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) masih menjadi kejahatan dominan, dengan 613 kasus pada 2025 dan 363 kasus pada semester I 2026. Ia meminta data tersebut diterjemahkan menjadi pemetaan lokasi dan waktu rawan, sehingga patroli dapat diarahkan secara lebih presisi. "Data harus bisa menjawab: kejahatan paling sering terjadi di mana, jam berapa paling rawan, bagaimana pola kejadiannya, dan patroli mana yang paling dekat," tegasnya.
Pendekatan berbasis data ini diharapkan mengubah pola kerja kepolisian dari reaktif menjadi preventif. Kehadiran personel pada titik rawan diharapkan mampu menekan angka kejahatan sebelum terjadi. Fadil menutup arahannya dengan mengingatkan bahwa masyarakat tidak menilai kecanggihan teknologi atau besarnya layar Command Center, melainkan kecepatan dan ketepatan polisi saat dibutuhkan. Pertanyaan kuncinya: apakah transformasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga yang membutuhkan pertolongan?



