Ketua Mahkamah Agung Singapura Pensiun, Hakim Sushil Nair Ditunjuk sebagai Pengganti
Baca dalam 60 detik
- Ketua Mahkamah Agung Singapura Sundaresh Menon akan pensiun pada 26 Februari 2027 setelah menjabat lebih dari 14 tahun, digantikan oleh Hakim Sushil Nair.
- Di bawah kepemimpinan Menon, peradilan Singapura mengalami transformasi digital dan penguatan sebagai pusat penyelesaian sengketa internasional.
- Hakim Sushil Nair, dengan pengalaman 35 tahun di bidang hukum komersial, diharapkan melanjutkan reformasi dan menjaga independensi peradilan.

Ketua Mahkamah Agung Singapura, Sundaresh Menon, akan mengakhiri masa jabatannya pada 26 Februari 2027 setelah memimpin lembaga peradilan negeri itu selama lebih dari 14 tahun. Posisinya akan diisi oleh Hakim Sushil Sukumaran Nair, yang saat ini menjabat sebagai Hakim di Pengadilan Banding, dan akan menjadi Ketua Mahkamah Agung kelima di negara tersebut.
Pengumuman ini disampaikan oleh Kantor Perdana Menteri Singapura pada Jumat (17/7) waktu setempat. Menon, yang mulai menjabat pada 6 November 2012 saat berusia 50 tahun, dianggap berhasil membawa perubahan signifikan bagi peradilan Singapura. Ia mendorong transformasi digital, membentuk Divisi Banding di Pengadilan Tinggi untuk mempercepat proses banding, serta mengembangkan Pengadilan Komersial Internasional Singapura yang memperkuat posisi negara itu sebagai pusat penyelesaian sengketa global.
Di bawah kepemimpinannya, Pengadilan Keluarga dan Pengadilan Remaja juga mengadopsi pendekatan keadilan terapeutik, menggabungkan hakim dan konselor dalam tim multidisiplin untuk menangani akar konflik. Perdana Menteri Lawrence Wong menyatakan bahwa Menon telah mengabdi dengan cemerlang dan berhasil membangun kepercayaan masyarakat serta rasa hormat komunitas hukum internasional.
Hakim Sushil Nair memulai karier yudisialnya sebagai Komisaris Yudisial pada 1 April 2025, kemudian diangkat sebagai Hakim Pengadilan Tinggi, dan pada 15 Juni 2025 menjadi Hakim Pengadilan Banding. Sebelum menjadi hakim, ia dikenal sebagai ahli hukum komersial dan lintas batas di kawasan Asia-Pasifik. Ia juga aktif dalam pelayanan publik, termasuk berperan dalam negosiasi pengambilalihan Singapore Sports Hub oleh Sport Singapore dan penyusunan RUU yang memberikan keringanan bagi bisnis dan individu terdampak pandemi.
Menon menyebut jabatannya sebagai "panggilan untuk mengabdi" dan berterima kasih kepada pemerintah atas kepercayaan yang diberikan. Ia menekankan komitmennya untuk menyerahkan institusi yang lebih kuat kepada penerusnya, sebagaimana tradisi dalam pelayanan publik Singapura. "Saya telah memberikan yang terbaik. Kini saatnya menyerahkan tanggung jawab ini, dan saya yakin Hakim Sushil Nair akan terus memperkuat lembaga nasional yang berharga ini," ujarnya.
Sementara itu, Nair menyatakan kehormatan mendalam atas penunjukannya dan sadar akan tanggung jawab besar sebagai Ketua Mahkamah Agung. Ia memuji kepemimpinan Menon yang berhasil membangun kepercayaan publik dan mengembangkan hukum Singapura yang diakui secara internasional. "Bersama rekan-rekan di bangku pengadilan dan seluruh peradilan, saya akan berusaha menjaga independensi dan integritas pengadilan, menegakkan supremasi hukum, dan memastikan keadilan diberikan secara imparsial, adil, dan efektif demi kepentingan rakyat Singapura," kata Nair.
Transisi kepemimpinan ini menjadi perhatian di kawasan, termasuk Indonesia, yang juga tengah berupaya memperkuat sistem peradilan dan daya saing hukum. Langkah Singapura dalam memodernisasi peradilan dan menarik sengketa internasional dapat menjadi referensi bagi negara tetangga dalam meningkatkan kualitas layanan hukum dan penyelesaian sengketa bisnis.
Ke depan, publik akan menyaksikan apakah Nair mampu melanjutkan reformasi yang dirintis Menon, terutama dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan prinsip hukum klasik. Pertanyaan besarnya: dapatkah Singapura mempertahankan reputasinya sebagai pusat hukum terkemuka di Asia di tengah persaingan dengan yurisdiksi lain seperti Hong Kong dan London?



