Gagal Dapat Morgan Rogers, Arsenal Punya 'Senjata' Tersembunyi Bernama Eze
Baca dalam 60 detik
- Chelsea mengamankan Morgan Rogers dengan rekor transfer £117 juta, membuat Arsenal kembali gagal mendatangkan target utama.
- Eberechi Eze, yang dibeli Arsenal setahun lalu, dinilai memiliki profil serupa dengan Rogers dan bisa menjadi solusi internal.
- Lonjakan harga pasar pemain Inggris membuat Arsenal harus lebih cermat dalam belanja pemain di bursa transfer.

Arsenal kembali harus merelakan target utama mereka di bursa transfer musim panas ini. Morgan Rogers, gelandang serang Aston Villa yang menjadi incaran utama Mikel Arteta, akhirnya memilih bergabung dengan Chelsea setelah klub asal London barat itu mengajukan tawaran senilai £117 juta—angka yang tak mampu disaingi oleh Arsenal.
Kegagalan ini bukanlah yang pertama bagi Arteta. Dalam empat tahun terakhir, ia telah kehilangan Raphinha, Moises Caicedo, dan Alexander Isak karena kalah bersaing secara finansial. Pola yang sama kini terulang: Arsenal hanya bersedia mengeluarkan dana besar untuk Declan Rice (£105 juta) pada 2023, sementara untuk pemain lain mereka enggan menembus angka £100 juta. Padahal, pasar pemain Inggris sedang mengalami inflasi ekstrem—Elliot Anderson baru saja pindah ke Manchester City seharga £116 juta, dan Sandro Tonali ke Tottenham dengan banderol £100 juta.
Namun, di balik kekecewaan itu, Arsenal sebenarnya sudah memiliki sosok dengan karakteristik serupa: Eberechi Eze. Gelandang serang asal Inggris yang direkrut dari Crystal Palace pada musim panas lalu itu memiliki gaya bermain yang nyaris identik dengan Rogers. Keduanya sama-sama nyaman beroperasi di antara lini tengah dan depan, gemar membawa bola, serta produktif dalam mencetak gol dan assist. Musim lalu, Eze mencatatkan 10 gol dan 6 assist di semua kompetisi, meski musim sebelumnya ia mampu menyamai ketajaman Rogers dengan 14 gol.
Meski demikian, performa Eze di Arsenal belum sepenuhnya konsisten. Pengamat Arsenal, Connor Humm, pernah mengkritik sikapnya yang kadang terlihat "jalan-jalan seperti Mesut Ozil" saat performanya menurun. Namun, penampilan Eze di laga perebutan medali perunggu antara Inggris dan Prancis menjadi bukti bahwa ia mampu tampil gemilang. Bermain sebagai gelandang serang ganda bersama Rogers, Eze justru lebih menonjol dengan memberikan assist untuk gol kedua Bukayo Saka.
Bagi Arsenal, kegagalan mendapatkan Rogers mungkin bukan akhir dari segalanya. Kebutuhan utama tim saat ini adalah seorang winger kiri murni—profil yang lebih cocok diisi oleh Bradley Barcola dari Lyon, yang disebut sebagai "salah satu winger kiri terbaik di Eropa" oleh scout Como, Ben Mattinson. Sementara itu, Eze bisa menjadi opsi internal yang lebih ekonomis dan sudah terbiasa dengan sistem Arteta.
Dengan harga pasar yang terus meroket, Arsenal harus cermat memilih prioritas. Apakah mereka akan kembali mengeluarkan dana besar untuk pemain baru, atau justru memaksimalkan potensi pemain yang sudah ada seperti Eze? Keputusan di bursa transfer musim panas ini akan menentukan apakah Arsenal mampu bersaing di papan atas Premier League musim depan.



