Serangan Siber Lumpuhkan Rantai Pasok Es Krim Jepang, Glico Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan es krim Ezaki Glico mengalami keterlambatan pengiriman akibat serangan siber pada mitra logistik Nichirei.
- Nichirei, operator gudang beku terbesar Jepang, menjadi sasaran peretasan yang juga mengganggu operasi KFC dan Kura Sushi.
- Serangan ini menambah daftar panjang insiden siber di Jepang, mengingatkan perusahaan akan pentingnya keamanan sistem.

Gelombang serangan siber kembali menerpa Jepang, kali ini menghantam Nichirei, perusahaan logistik rantai dingin terbesar di negeri sakura. Dampaknya langsung terasa: Ezaki Glico, produsen es krim dan camilan populer seperti Pocky, mengaku mengalami keterlambatan pengiriman produk beku di tengah lonjakan permintaan musim panas.
Nichirei mengonfirmasi pada Rabu (16/7) bahwa sistem komputernya menjadi sasaran serangan siber, yang mengganggu operasional anak perusahaannya, termasuk layanan pengiriman. Perusahaan berencana memulihkan layanan secara bertahap mulai Kamis (17/7). Namun, dampak berantai telah meluas ke berbagai merek besar.
Kentucky Fried Chicken (KFC) Jepang telah memperingatkan potensi kelangkaan bahan baku yang bisa memaksa restoran menutup sementara atau menghapus beberapa menu. Kura Sushi, jaringan sushi konveyor dengan hampir 700 gerai di Jepang dan luar negeri, juga melaporkan keterlambatan pengiriman untuk beberapa produk di wilayah barat.
Glico enggan mengungkapkan dampak finansial, namun juru bicaranya mengatakan perusahaan menggunakan alternatif untuk memasok wilayah barat Jepang yang terkena dampak. Rantai supermarket besar, perusahaan kue, hingga dapur lansia juga ikut terganggu, menurut laporan media setempat.
Serangan terhadap Nichirei ini merupakan insiden siber terbaru yang melumpuhkan perusahaan besar Jepang. Tahun lalu, raksasa bir Asahi mengalami serangan ransomware yang mengganggu bisnisnya selama berbulan-bulan, memaksa mereka kembali memproses pesanan secara manual. Kelompok peretas Qilin, yang diduga berbasis di Rusia, mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Asahi Dry, merek bir terpopuler Jepang.
Merek ritel Muji juga sempat menghentikan belanja online di Jepang setelah serangan ransomware pada mitra pengirimannya, Askul. Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menekankan bahwa insiden ini menjadi pengingat bagi perusahaan untuk selalu memperbarui sistem keamanan mereka.
Bagi Indonesia, serangan ini menjadi pelajaran berharga. Dengan meningkatnya digitalisasi rantai pasok, terutama di sektor makanan dan logistik, risiko serangan siber kian nyata. Perusahaan Indonesia yang bergantung pada mitra logistik pihak ketiga perlu mengevaluasi ketahanan siber mereka. Apakah sistem keamanan data dan operasional sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman serupa?
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam berbagi informasi intelijen ancaman siber menjadi krusial. Jepang sendiri masih bergulat dengan frekuensi serangan yang meningkat, sementara pelaku bisnis di Indonesia harus belajar dari pengalaman negeri sakura agar tidak menjadi sasaran berikutnya.



