Diplomasi Multi-Aliansi India: Strategi 'Middle Power' yang Mengubah Peta Indo-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri India Narendra Modi mengamankan sejumlah kesepakatan strategis dengan Indonesia, Australia, dan Selandia Baru dalam sepekan, menandai penguatan hubungan antar-negara kekuatan menengah di Indo-Pasifik.
- Strategi multi-aliansi India memungkinkan negara-negara seperti Indonesia dan Australia melakukan penyeimbangan tanpa harus memihak secara eksklusif ke AS atau China, di tengah menurunnya kepercayaan terhadap Washington.
- Keberhasilan diplomasi ini diuji pada implementasi kesepakatan dan ketahanan kepercayaan saat krisis berikutnya, dengan AS sendiri meragukan koherensi blok kekuatan menengah.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Perdana Menteri India Narendra Modi melancarkan serangkaian diplomasi kilat pada Juli lalu yang tidak hanya mengamankan kepentingan nasional India, tetapi juga mempertegas peran negara-negara kekuatan menengah (middle powers) dalam membentuk tatanan Indo-Pasifik. Dalam sepekan, Modi merampungkan penjualan rudal supersonik Brahmos ke Indonesia, mendapatkan pasokan uranium dari Australia, serta meningkatkan hubungan dengan Selandia Baru ke tingkat kemitraan strategis.
Meskipun masing-masing kesepakatan mungkin tidak secara fundamental mengubah peta kekuatan kawasan, akumulasinya menunjukkan tren yang jelas: negara-negara kekuatan menengah semakin memperdalam hubungan satu sama lain di tengah menurunnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra keamanan yang andal. Hal ini diamini oleh Shruti Pandalai, Kepala Kursi India di Lowy Institute Australia, yang menilai bahwa negara-negara tersebut tidak sedang meninggalkan Washington, melainkan merespons dinamika yang bergeser di Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, kedekatan dengan India bukanlah hal baru. Kedua negara memiliki peradaban kuno yang saling terkait, dan meskipun sempat renggang akibat perang India-Pakistan 1965, kepentingan strategis kini kembali bertemu. Dr. Aparna Pande, senior fellow di Hudson Institute, menekankan bahwa Indonesia dan India sama-sama memandang diri sebagai hegemon di kawasan masing-masing dan memiliki hubungan dekat dengan AS, namun tetap berusaha mengelola hubungan dengan China. Penjualan rudal Brahmos menjadi bukti konkret dari konvergensi kepentingan maritim kedua negara.
Di Australia, kunjungan Modi yang ketiga kalinya menandai transisi dari sekadar pembangunan kerangka kerja menuju implementasi. Kesepakatan pasokan uranium dan koridor pertahanan-industri menunjukkan bahwa hubungan bilateral telah melampaui fase "potensi yang belum tergarap", seperti yang kerap dikatakan para pengamat Australia. Bagi Canberra, mempererat hubungan dengan India adalah cara untuk diversifikasi dan mengurangi ketergantungan pada China, sekaligus menegaskan posisi sebagai aktor independen di Indo-Pasifik, bukan sekadar sekutu AS.
Uji coba rudal China pada 6 Juli, yang mendarat di dekat Kepulauan Solomon, secara tidak langsung memperkuat urgensi kerja sama pertahanan Australia-India. Carlyle Thayer, profesor emeritus di University of New South Wales, menilai bahwa meskipun waktu peluncuran mungkin tidak disengaja, efeknya jelas: mempertegas pentingnya hubungan pertahanan Australia dengan India.
India juga memanfaatkan diaspora globalnya yang besar sebagai alat diplomasi. Dalam acara "Melbourne meets Modi" yang dihadiri sekitar 30.000 anggota komunitas India-Australia, Modi dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese bersama-sama menyapa warga, menunjukkan bahwa hubungan bilateral juga membawa manfaat politik domestik bagi kedua negara.
Namun, tidak semua pihak yakin dengan koherensi blok kekuatan menengah ini. Elbridge Colby, pejabat kebijakan Pentagon, menyatakan bahwa AS tidak khawatir dengan "keributan tentang strategi kekuatan menengah", dan justru mengkhawatirkan beberapa sekutu akan membuang waktu dan sumber daya pada hal yang dianggapnya sebagai pengalihan. Meskipun demikian, bagi banyak negara Indo-Pasifik, landasan kerja sama sudah jelas: respons logis terhadap kebijakan "America First" yang transaksional di bawah Donald Trump.
Ujian sesungguhnya dari kemitraan ini adalah implementasi kesepakatan dan ketahanan kepercayaan saat krisis berikutnya. Akankah negara-negara kekuatan menengah mampu bertahan tanpa bergantung pada AS, atau justru kembali ke pangkuan Washington ketika tekanan meningkat? Indo-Pasifik akan menjadi saksi.



