Spin-off Big Bang Theory: Stuart Fails to Save the Universe, Genre Berbeda Jauh
Baca dalam 60 detik
- Kevin Sussman menegaskan spin-off Stuart Fails to Save the Universe tidak bisa dibandingkan dengan The Big Bang Theory karena genre dan pendekatannya sangat berbeda.
- Serial ini mengusung genre multiverse dan pasca-apokaliptik, tetap dibalut komedi khas Chuck Lorre, namun dengan format single-camera yang lebih sinematik.
- Sussman mengaku kaget mendapat peran utama; ia hanya berharap bisa terus bekerja dan mendapatkan asuransi kesehatan.

Kevin Sussman, aktor yang kembali memerankan Stuart Bloom dalam spin-off terbaru Stuart Fails to Save the Universe, memberikan peringatan tegas kepada para penggemar setia The Big Bang Theory: jangan berharap tontonan yang sama. Menurutnya, serial yang tayang di HBO Max ini benar-benar berbeda genre dan tidak layak dibandingkan dengan pendahulunya yang legendaris.
Dalam wawancara dengan TVLine, Sussman mengungkapkan bahwa meskipun masih mengandung "DNA Chuck Lorre" dalam hal komedi, Stuart Fails to Save the Universe adalah tontonan yang sama sekali baru. "Tidak ada gunanya membandingkan dengan serial asli karena perbedaannya sangat mendasar. Ini genre yang berbeda," ujar aktor berusia 55 tahun itu.
Serial ini digarap oleh kreator The Big Bang Theory, Chuck Lorre, yang secara langsung memanggil Sussman untuk menawarkan proyek tersebut. Lorre menggambarkan spin-off ini sebagai "serial multiverse" di mana beberapa karakter asli akan muncul, tetapi dalam versi yang berbeda dari yang dikenal penonton. Konsep ini jelas menjauh dari formula sitkom klasik yang membuat The Big Bang Theory sukses selama 12 musim.
Bagi Sussman, mendapatkan peran utama dalam spin-off ini adalah kejutan besar. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pusat cerita. "Saya hanya ingin asuransi kesehatan. Saya selalu ingin bekerja. Jadi ini di luar dugaan saya," katanya kepada Deadline. Sikap rendah hati ini kontras dengan besarnya ekspektasi yang mungkin dibebankan padanya.
Premis serial ini terdengar ambisius: Stuart Bloom, pemilik toko komik yang dulu sering menjadi bahan ejekan, kini harus menyelamatkan alam semesta. Ia dibantu oleh kekasihnya Denise, teman geolog Bert, dan Barry Kripke yang menyebalkan. Dalam perjalanan, mereka bertemu versi alternatif dari karakter-karakter The Big Bang Theory yang sudah dikenal. Judulnya sendiri sudah memberi petunjuk: segalanya tidak berjalan mulus.
Pergeseran dari format multi-camera dengan penonton langsung ke single-camera tanpa penonton juga menjadi pembeda signifikan. Ini memungkinkan gaya penyutradaraan yang lebih sinematik dan lelucon yang lebih visual, mirip dengan serial seperti The Office atau Community. Bagi penggemar setia The Big Bang Theory, transisi ini mungkin terasa asing, namun justru di situlah letak kebaruan yang ditawarkan.
Di Indonesia, The Big Bang Theory memiliki basis penggemar yang cukup besar, terutama di kalangan penikmat sitkom berbahasa Inggris. Kehadiran spin-off dengan genre berbeda ini bisa menjadi angin segar sekaligus tantangan. Akankah penonton Indonesia menerima Stuart yang lebih heroik namun tetap kocak? Atau justru merindukan dinamika lama Sheldon dan kawan-kawan? Yang jelas, Stuart Fails to Save the Universe tidak akan menjadi sekadar ulangan dari kesuksesan masa lalu.
Dengan segala perbedaan yang diusung, pertanyaan besarnya adalah: apakah spin-off ini mampu berdiri sendiri dan menciptakan basis penggemar baru, atau akan selalu hidup di bayang-bayang The Big Bang Theory? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pastiโStuart Bloom kini memiliki kesempatan untuk menjadi bintang, bukan sekadar figuran.



