Israel Tegaskan Tak Akan Tarik Pasukan dari Zona Aman di Lebanon, Suriah, dan Gaza
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Israel menyatakan pasukan akan tetap berada di wilayah penyangga yang telah dikuasai di tiga negara tetangga.
- Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump meminta penarikan pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon.
- Keputusan ini berpotensi memperumit negosiasi damai yang dimediasi AS dan meningkatkan ketegangan regional.

Israel menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kehadiran militer di zona-zona aman yang telah dibentuk di Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza, meskipun mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataan resmi pada Kamis (16/7) mengungkapkan hal tersebut kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam sebuah percakapan telepon.
Katz menekankan bahwa keberadaan pasukan Israel di wilayah-wilayah itu diperlukan untuk melindungi perbatasan dan komunitas di dekat perbatasan dari ancaman kelompok militan. โKami tidak pernah meminta Amerika Serikat untuk bertindak menggantikan kami di sepanjang perbatasan kami,โ kata Katz, seperti dikutip dari kantornya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Israel tidak akan mudah menuruti permintaan Washington untuk menarik pasukannya.
Tekanan AS sendiri muncul setelah Presiden Donald Trump, menurut laporan Axios, meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menarik pasukan dari Suriah dan Lebanon. Trump disebut menilai bahwa kehadiran militer Israel justru memicu ketegangan di Suriah. โMereka tidak menginginkan kalian di sana. Kalian harus memindahkan pasukan,โ kata Trump kepada Netanyahu, mengutip sumber pejabat AS.
Keputusan Israel untuk tetap bertahan di zona-zona aman ini memiliki implikasi besar bagi stabilitas kawasan. Di Suriah, setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel mengirim pasukan ke zona penyangga yang sebelumnya diawasi PBB di Dataran Tinggi Golan. Israel juga menginginkan zona demiliterisasi di selatan Suriah. Sementara itu, di Lebanon, pasukan Israel masih berada di zona aman yang membentang sekitar 10 km ke dalam wilayah Lebanon. Lebanon dan Israel, yang tidak memiliki hubungan diplomatik, saat ini tengah menjalani perundingan untuk mengakhiri permusuhan setelah kelompok Hizbullah menyerang Israel pada Maret lalu. Putaran kelima perundingan di Roma baru saja berakhir pada Rabu (15/7).
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian mengingat posisi Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan stabilitas Timur Tengah. Kehadiran militer Israel yang berkepanjangan di Gaza, khususnya, dapat memperburuk situasi kemanusiaan dan menghambat upaya rekonsiliasi Palestina. Selain itu, ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon dan Suriah juga berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas, yang dapat berdampak pada harga energi dan stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Perundingan yang dimediasi AS bertujuan untuk menarik pasukan Israel secara bertahap dari Lebanon, dimulai dengan dua โzona percontohanโ di luar zona aman yang telah didirikan Israel di selatan. Namun, dengan pernyataan tegas Katz, prospek kesepakatan damai masih jauh dari pasti. Israel tampaknya akan terus mempertahankan posisinya selama ancaman keamanan masih dirasakan, sementara tekanan internasional untuk penarikan pasukan terus meningkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS akan meningkatkan tekanan atau justru mengakomodasi kepentingan keamanan Israel. Jika Washington memilih untuk bersikap lunak, maka zona aman Israel bisa menjadi permanen, mengubah peta geopolitik kawasan secara fundamental. Sebaliknya, jika tekanan terus berlanjut, Israel mungkin harus memilih antara mempertahankan keamanan atau menjaga hubungan dengan sekutu utamanya.



