Tim Rugby Inggris Pindah Hotel Demi Hindari Euforia Final Piala Dunia Argentina
Baca dalam 60 detik
- Timnas rugby Inggris memindahkan penginapan di Buenos Aires untuk mengantisipasi keramaian suporter jika Argentina juara Piala Dunia sepak bola.
- Keputusan diambil setelah ribuan orang merayakan kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal, dengan kembang api hingga dini hari.
- Pemain Henry Pollock sempat terlibat ejekan dengan suporter Argentina, namun pelatih Borthwick menilai itu bagian dari karakter tim.

Timnas rugby Inggris terpaksa mengubah rencana akomodasi di Buenos Aires pada akhir pekan ini, langkah antisipatif untuk menghindari potensi kericuhan jika Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia sepak bola setelah menghadapi Spanyol pada Minggu (20/7). Keputusan ini diambil setelah pengalaman mencekam saat Argentina mengalahkan Inggris di semifinal, di mana perayaan suporter berlangsung hingga larut malam dan mengganggu istirahat para pemain.
Pelatih Steve Borthwick mengungkapkan bahwa timnya yang semula menginap di hotel dekat Plaza de la Republica—pusat keramaian dengan monumen Obelisk—akan dipindahkan ke hotel di dekat bandara internasional Buenos Aires pada Minggu malam. Langkah ini diambil setelah sekitar lima juta orang membanjiri jalanan ibu kota saat Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, dan ribuan lainnya berpesta hingga dini hari setelah kemenangan semifinal atas Inggris pekan ini.
“Saya rasa tidak ada yang tidur nyenyak semalam—kembang api masih terdengar sampai pukul 4 pagi,” ujar Borthwick. “Sebagian besar dari kami berada di sisi lain hotel dan semua diberikan penyumbat telinga. Kami sudah siap.” Pelatih asal Inggris itu menambahkan bahwa dirinya sempat naik ke teras hotel dan melihat para pemain menyaksikan keramaian dari atas. “Orang-orang melompat-lompat di jalan selama berjam-jam. Kembang api bersahutan. Itu pemandangan yang luar biasa,” katanya.
Keputusan pindah hotel juga dipicu oleh insiden yang melibatkan pemain sayap Henry Pollock. Video yang beredar menunjukkan Pollock, 21 tahun, mengejek suporter Argentina dari jendela bus tim saat kembali dari latihan. Ia memberikan gestur jempol ke bawah, menjulurkan lidah, dan memberi isyarat diam. Sebagai respons, seorang suporter memukul kaca bus. Borthwick membela Pollock dengan mengatakan bahwa tim membutuhkan karakter seperti itu. “Henry penuh karakter. Kami ingin karakter dalam permainan dan skuad. Saya pikir itu dilakukan dengan niat baik,” ujarnya.
Pertandingan akhir pekan ini menjadi ujian bagi kedua tim. Inggris datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menghancurkan Fiji 73-8 pekan lalu, sementara Argentina diperkuat pemain-pemain yang akrab dengan sepak bola Inggris. Namun, euforia sepak bola Argentina bisa menjadi faktor pengganggu. Borthwick mengakui bahwa pengalaman menyaksikan perayaan suporter tuan rumah adalah bagian dari petualangan tur. “Kami semua ingin Inggris menang, tapi salah satu pengalaman tur adalah menyaksikan tontonan seperti itu di belahan dunia lain,” katanya.
Dengan persiapan yang terganggu dan perubahan logistik mendadak, Inggris tetap optimistis menghadapi laga terakhir tur mereka. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah tim asuhan Borthwick fokus di tengah gemuruh pesta yang mungkin terjadi, atau justru Argentina yang akan memanfaatkan momentum untuk membalikkan sejarah pertemuan kedua tim?



