Pertunjukan Paruh Waktu Piala Dunia 2026: Ronaldo dan Ronaldinho Antar Madonna ke Panggung
Baca dalam 60 detik
- Ronaldo dan Ronaldinho menjadi pengemudi buggy yang mengantar Madonna ke pertunjukan paruh waktu Final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium.
- FIFA memperkenalkan pertunjukan paruh waktu ala Super Bowl untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, atas inisiatif Presiden Gianni Infantino.
- Pertunjukan tersebut berlangsung selama 27 menit, menjadikannya jeda paruh waktu terlama dalam sejarah Piala Dunia, dengan skor imbang 0-0 antara Spanyol dan Argentina.

Legenda sepak bola Brasil, Ronaldo dan Ronaldinho, tampil dalam peran yang tak biasa pada Final Piala Dunia 2026: menjadi sopir bagi diva pop Madonna menuju panggung pertunjukan paruh waktu di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat.
Momen tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah final Piala Dunia. Madonna, yang menjadi bintang utama pertunjukan paruh waktu, diantar menggunakan buggy yang dikemudikan langsung oleh Ronaldo—mantan penyerang Inter Milan—dengan Ronaldinho duduk di sampingnya. Keduanya kemudian berdiri bersama di atas panggung untuk menyambut penampil lain seperti Justin Bieber, BTS, Shakira, dan The Muppets.
Kemunculan Ronaldinho di ajang ini terbilang istimewa. Pasalnya, pemain berusia 46 tahun itu baru saja comeback ke sepak bola profesional dengan menandatangani kontrak bersama Ravenna, klub Serie C Italia, pada Juni lalu. Sementara Ronaldo, yang dikenal sebagai salah satu striker terhebat sepanjang masa, juga memiliki ikatan kuat dengan Italia setelah membela Inter Milan dan kemudian AC Milan.
Kehadiran pertunjukan paruh waktu dalam final Piala Dunia merupakan gebrakan baru yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino. Ide ini terinspirasi dari tradisi Super Bowl di Amerika Serikat, di mana pertunjukan paruh waktu seringkali menjadi tontonan yang tak kalah meriah dari pertandingan itu sendiri. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kemasan acara Piala Dunia, yang sebelumnya lebih fokus pada aspek olahraga murni.
Bagi Indonesia, momen ini memiliki resonansi tersendiri. Sepak bola dan musik populer adalah dua elemen yang memiliki basis penggemar besar di tanah air. Kolaborasi antara legenda sepak bola Brasil dan ikon musik global seperti Madonna bisa menjadi inspirasi bagi penyelenggaraan event olahraga di Indonesia, terutama dalam upaya meningkatkan daya tarik dan pengalaman penonton. Selain itu, kembalinya Ronaldinho ke Italia—negara yang memiliki banyak penggemar di Indonesia—juga menjadi sorotan tersendiri bagi pencinta sepak bola Tanah Air.
Pertandingan final antara Spanyol dan Argentina sendiri masih berlangsung ketat. Hingga turun minum, kedua tim belum mampu mencetak gol. Jeda paruh waktu yang panjang—27 menit—menjadi yang terlama dalam sejarah Piala Dunia, memberikan waktu istirahat lebih bagi pemain sekaligus kesempatan bagi penonton untuk menikmati pertunjukan spektakuler.
Ke depannya, apakah format pertunjukan paruh waktu ini akan menjadi tradisi tetap Piala Dunia? Atau justru akan menuai kritik karena dianggap mengalihkan perhatian dari esensi olahraga? Yang jelas, langkah FIFA ini menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang pengalaman hiburan yang lebih luas bagi para penggemar global.



