Google Kembali Tertinggal: Peluncuran Gemini 3.5 Pro Mundur Berbulan-bulan
Baca dalam 60 detik
- Google menunda rilis model AI andalannya, Gemini 3.5 Pro, karena hasil pengujian internal gagal memenuhi target, terutama dalam kemampuan coding.
- Keterlambatan ini memperlebar jarak dengan pesaing seperti OpenAI dan Anthropic yang sudah meluncurkan model lebih canggih, memicu kekhawatiran di internal Google.
- Saham Alphabet langsung tertekan hampir 3%, sementara Google mengklaim masih menguji model tersebut dengan mitra dan pemerintah AS.

Google kembali mengalami kemunduran signifikan dalam perlombaan kecerdasan buatan. Model AI paling canggihnya, Gemini 3.5 Pro, dipastikan tidak akan dirilis sesuai jadwal awal Juni dan molor hingga berbulan-bulan karena hasil pengembangan internal dinilai belum memenuhi standar yang ditetapkan, terutama dalam hal kemampuan menulis kode pemrograman.
Keterlambatan ini terungkap dalam laporan Bloomberg yang mengutip sepuluh karyawan aktif dan mantan karyawan Google. Menurut mereka, kekhawatiran mulai menyelimuti tim engineer, peneliti AI, dan manajer di tengah gempuran kompetitor seperti OpenAI yang baru saja meluncurkan GPT-5.6, serta Anthropic yang telah menghadirkan model Mythos 5 dan Fable 5. Kedua rival tersebut dinilai telah melampaui performa Gemini dalam sejumlah tolok ukur industri.
Penundaan ini terjadi di tengah persaingan ketat antarpengembang AI untuk meningkatkan performa model, menekan biaya, dan memperluas kemampuan enterprise. Industri saat ini menyaksikan laju peluncuran model dan sistem penalaran baru yang hampir tanpa henti. Dalam konteks ini, setiap keterlambatan bisa berarti kehilangan pangsa pasar dan kepercayaan pelanggan.
Google sendiri membantah bahwa penundaan ini merupakan kegagalan. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan kepada Reuters bahwa mereka saat ini sedang menguji Gemini 3.5 Pro, model Flash yang ditingkatkan, dan model lainnya bersama mitra. โKami juga secara produktif terlibat dengan pemerintah AS,โ ujarnya. Pihak Google menekankan bahwa mereka terus merilis berbagai model dengan cepat dan tetap menjaga efisiensi biaya bagi pelanggan.
Di sisi lain, regulator AS mulai memainkan peran lebih besar dalam pengembangan AI. OpenAI sebelumnya menunda peluncuran GPT-5.6 atas permintaan pemerintah karena kekhawatiran penyalahgunaan teknologi. Anthropic bahkan sempat menonaktifkan model tercanggihnya setelah perintah kontrol ekspor pada 12 Juni, meskipun pembatasan tersebut dicabut pada akhir Juni setelah Anthropic menambahkan pengamanan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa persaingan AI global tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga kepatuhan regulasi dan keamanan. Negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu mencermati bagaimana kebijakan AS dan negara maju lainnya membentuk akses terhadap teknologi AI canggih. Jika model-model terbaru tunduk pada kontrol ekspor yang ketat, adopsi AI di Indonesia bisa terhambat, terutama di sektor-sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan keuangan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Google mengejar ketertinggalan tanpa mengorbankan kualitas? Atau justru tekanan kompetisi akan memaksanya merilis produk yang setengah matang? Jawabannya akan menentukan peta kekuatan industri AI dalam setahun ke depan.



