Keputusan Taktik Tuchel Picu Kekecewaan Pemain Inggris Usai Tersingkir dari Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan semifinal Piala Dunia dari Argentina memicu kritik internal terhadap pendekatan defensif Thomas Tuchel.
- Sejumlah pemain senior menilai instruksi mundur terlalu dini dan perubahan taktik justru memperburuk tekanan lawan.
- Keretakan hubungan pemain-pelatih ini menjadi ujian awal bagi Tuchel menjelang kualifikasi Piala Eropa.

Kekalahan pahit Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya memperpanjang puasa gelar selama 64 tahun, tetapi juga membuka celah ketidakharmonisan di dalam skuad. Sejumlah pemain kunci dikabarkan kecewa dengan keputusan taktik Thomas Tuchel yang dinilai terlalu defensif saat unggul 1-0, hingga akhirnya tim harus menyerah 2-1 di Atlanta.
Menurut sumber BBC Sport, setidaknya tiga pemain senior secara pribadi mengeluhkan pendekatan tim pada 35 menit terakhir pertandingan. Mereka merasa instruksi untuk bertahan dengan formasi lima pemain belakang justru mengundang gelombang serangan Argentina. Alih-alih menjaga keunggulan, Inggris malah kehilangan kendali permainan dan akhirnya kebobolan dua gol penentu.
Kekecewaan ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Para pemain menilai bahwa tim seharusnya tetap berani menekan lawan, setidaknya untuk memberi jeda bagi lini pertahanan. Namun, Tuchel memilih untuk mundur total dan hanya mengandalkan serangan balik sporadis. "Mereka terlalu dalam dan terlalu cepat mundur," ujar satu sumber internal.
Analis sepak bola Wayne Rooney secara terbuka menyebut kekalahan itu "berawal dari manajer dan keputusan yang dia buat". Kritik ini menambah tekanan pada Tuchel, yang diangkat dengan harapan bisa membawa Inggris menjadi juara setelah era Gareth Southgate yang nyaris tetapi tak pernah sampai. Southgate sendiri mencapai semifinal Piala Dunia dan dua final Piala Eropa, namun selalu gagal di momen penentu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika internal Inggris ini menarik dicermati. Tuchel dikenal sebagai pelatih dengan reputasi taktik brilian, tetapi gaya kepemimpinannya yang kaku kerap menimbulkan gesekan dengan pemain. Di level klub, ia pernah berselisih dengan bintang-bintang seperti Romelu Lukaku di Chelsea. Kini, tantangan serupa muncul di panggung internasional.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) melalui CEO Mark Bullingham masih memberikan dukungan penuh kepada Tuchel. Namun, evaluasi pasca-turnamen akan menjadi momen krusial. Inggris masih memiliki satu pertandingan lagi, yakni perebutan medali perunggu melawan Prancis, sebelum pulang dan melakukan pembenahan.
Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel merangkul kembali para pemainnya? Ataukah keretakan ini akan menjadi awal dari kisah yang sama seperti era Southgateโhampir juara, tetapi gagal di ujung? Kualifikasi Piala Eropa yang akan datang menjadi ujian nyata bagi harmoni tim.



