Kebakaran Landa TPA Cipayung Depok, Empat Unit Damkar Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran terjadi di TPA Cipayung, Depok, pada Kamis malam, memicu respons cepat pemadam kebakaran.
- Empat unit mobil pemadam dengan 16 personel dikerahkan dari tiga pos pemadam untuk menjinakkan api.
- Penyebab kebakaran belum diketahui; petugas masih fokus pada pemadaman dan pendinginan area.

Kebakaran melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung di Kota Depok, Jawa Barat, pada Kamis (16/7) malam, memicu pengerahan empat unit mobil pemadam kebakaran beserta 16 personel untuk menjinakkan api yang membesar.
Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok, Tessy Haryati, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih berjibaku melakukan pemadaman hingga Jumat dini hari. "Sementara 4 unit mobil pemadam dengan 16 orang personel," ujarnya saat dimintai keterangan, Kamis malam.
Unit-unit tersebut dikerahkan dari tiga pos pemadam, yakni UPT Cipayung, Mako Damkar Depok, dan UPT Cinere. Informasi mengenai kebakaran diterima petugas pada pukul 20.23 WIB. Dalam video yang diunggah akun Instagram resmi Damkar Depok, @depokfirerescue113, terlihat kobaran api cukup besar disertai asap tebal yang membubung tinggi dari area TPA.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab dan kronologi kebakaran masih belum diketahui. Tessy menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah operasi pemadaman. "Belum diketahui, kami fokus operasi pemadaman dahulu," katanya.
Kebakaran di tempat pembuangan akhir bukanlah kejadian langka di Indonesia. TPA sering kali menjadi titik rawan kebakaran akibat akumulasi gas metana dari sampah organik, terutama saat musim kemarau. Depok sendiri memiliki beberapa TPA yang melayani volume sampah harian cukup besar, sehingga insiden seperti ini memerlukan respons cepat untuk mencegah meluasnya dampak lingkungan dan kesehatan warga sekitar.
Petugas Damkar Depok terus berupaya melakukan pendinginan di area yang terbakar untuk mencegah api kembali menyala. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjauh dari lokasi kejadian demi keselamatan. Belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerugian material secara rinci.
Ke depan, pengelolaan TPA yang lebih baik, termasuk sistem deteksi dini kebakaran dan pengelolaan gas metana, menjadi krusial untuk mengurangi risiko serupa. Pertanyaan yang mengemuka: apakah insiden ini akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan di TPA-tpa di Indonesia?



