Oliver Glasner: Pelatih Baru Nottingham Forest yang Tak Takut 'Perceraian' dengan Klub
Baca dalam 60 detik
- Oliver Glasner resmi menangani Nottingham Forest dengan kontrak tiga tahun, membawa ambisi trofi setelah sukses bersama Crystal Palace.
- Forest telah berganti empat manajer dalam setahun terakhir, menjadikan klub sebagai salah satu yang paling tidak stabil di Premier League.
- Glasner berencana mengubah gaya bermain Forest menjadi lebih cepat dan efisien, dengan target rekrutan baru setelah Piala Dunia.

Oliver Glasner resmi diperkenalkan sebagai manajer anyar Nottingham Forest, menandai era baru di tengah pusaran pergantian pelatih yang tak kunjung reda di klub tersebut. Pria asal Austria itu datang dengan reputasi mentereng setelah membawa Crystal Palace meraih Piala FA dan Liga Konferensi Eropa dalam dua musim terakhir, sebuah prestasi yang diharapkan bisa ia ulang di City Ground.
Forest menjadi klub Premier League dengan tingkat perputaran manajer tertinggi dalam setahun terakhir. Sejak September, sudah empat nama duduk di kursi panas: Nuno Espirito Santo, Ange Postecoglou (hanya 39 hari), Sean Dyche (114 hari), dan Vitor Pereira yang dipecat dua menit sebelum klausul kontraknya berakhir. Situasi ini membuat banyak pihak mempertanyakan kewarasan Glasner menerima tawaran tersebut.
Namun, pelatih berusia 51 tahun itu tak gentar. Dalam konferensi pers perdananya, ia berkelakar soal tingkat perceraian di Austria yang mencapai 50 persen sebagai analogi risiko pekerjaannya. "Tidak ada yang ingin bercerai, tapi itu terjadi. Setiap klub ingin stabilitas, tapi itu bukan dunia nyata. Kami berkomitmen pada kontrak tiga tahun karena pemilik dan saya yakin itulah fondasi kesuksesan," ujarnya.
Glasner tidak berencana sekadar meniru formula Crystal Palace di Nottingham. Ia menegaskan, "Kami di sini bukan untuk menjadi Palace versi kedua." Meski begitu, pola permainan yang ia terapkan di Palaceโmenyerang dengan kecepatan tinggi (2,00 m/s, tercepat di Premier League)โdiprediksi akan diadopsi. Forest musim lalu hanya menempati peringkat ke-13 dalam kecepatan serangan (1,80 m/s).
Dari segi personel, Glasner diyakini memiliki materi pemain yang cocok dengan filosofinya. Ola Aina dan Neco Williams ideal sebagai wing-back, sementara lini depan dihuni nama-nama seperti Chris Wood, Morgan Gibbs-White, dan James McAtee. Ia juga mengincar tambahan pemain di lini tengah, penjaga gawang, dan striker setelah Piala Dunia berakhir. "Saya tidak sabar. Pemain yang kami incar masih libur usai Piala Dunia, tapi saya yakin beberapa akan bergabung di kamp pelatihan Portugal," katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Glasner menjadi pengingat betapa kerasnya persaingan di Premier League. Klub-klub seperti Forest yang berjuang di papan tengah kerap kali menjadi "pemakan" manajer demi mengejar target instan. Namun, pendekatan Glasner yang tenang dan terencana bisa menjadi angin segar, sekaligus ujian apakah stabilitas jangka panjang masih mungkin di era sepak bola modern yang serba cepat.
Pertanyaan besarnya: akankah kesabaran pemilik klub, Evangelos Marinakis, cukup panjang untuk memberi Glasner waktu membangun fondasi? Ataukah sejarah akan kembali berulang, menjadikan pelatih asal Austria itu sebagai korban berikut dari siklus perceraian yang tak berkesudahan?



