12.000 Ujaran Kebencian Menyerang Petenis Wanita Sepanjang 2025, Judi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Laporan Signify Group mencatat lebih dari 12.000 unggahan dan pesan bernada kasar menyasar petenis wanita di media sosial sepanjang 2025.
- Sebanyak 59% kasus pelecehan serius berasal dari pelaku judi yang kecewa, sementara 66% konten berbahaya berhasil dihapus.
- WTA dan World Tennis mendesak aksi kolektif platform digital, aparat, dan industri judi untuk melindungi atlet dari serangan siber.

Lebih dari 12.000 unggahan dan pesan bernada kasar menyerbu petenis wanita di media sosial sepanjang 2025 โ angka yang nyaris sama dengan tahun sebelumnya, menurut laporan terbaru dari Signify Group melalui layanan threat matrix berbasis kecerdasan buatan.
Laporan itu mengungkap bahwa sebagian besar serangan berasal dari kalangan petaruh yang frustrasi. Pada 2025, kelompok petaruh menyumbang 42% dari seluruh ujaran kebencian terverifikasi dan 59% dari kasus pelecehan serius. Angka ini sedikit menurun dibanding 2024 yang mencapai 48%, namun tetap mendominasi.
Dewan pemain WTA menyebut perilaku ini โtidak bisa diterimaโ dan dampaknya โsangat signifikanโ meskipun hanya dilakukan oleh segelintir akun. Mereka mengapresiasi langkah WTA dan World Tennis yang dinilai serius menangani masalah ini, termasuk mendukung pemain dan mengambil tindakan tegas terhadap pelaku.
Kendati angkanya masih tinggi, laporan mencatat kemajuan positif: 66% konten berbahaya berhasil dihapus, dan 35 akun yang terkait dengan 12 individu telah dinaikkan ke level penegakan hukum. Sistem threat matrix menggunakan AI yang didukung analis manusia untuk memindai konten di X, Instagram, YouTube, TikTok, dan Facebook.
Di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat maraknya perjudian olahraga ilegal yang kerap memicu ujaran kebencian di media sosial. Belum ada data spesifik untuk atlet dalam negeri, namun pola serupa mungkin terjadi. Regulator dan platform media sosial di Indonesia perlu mewaspadai potensi ini, terutama menjelang turnamen besar seperti Piala Dunia 2026 yang akan menyedot perhatian publik.
โWawasan dari laporan ini sangat penting untuk memperluas pengetahuan kami tentang masalah ini dan mengambil tindakan tegas guna melindungi korban pelecehan online,โ demikian pernyataan WTA dan World Tennis.
Petenis Inggris Katie Boulter, yang pernah menerima ancaman pembunuhan, menjadi salah satu korban. Rekan-rekannya mendesak platform media sosial menerapkan verifikasi identitas untuk menekan angka pelecehan. Sementara itu, di turnamen putra, sistem AI baru telah memblokir 162.000 unggahan dalam setahun, menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat efektif jika diimplementasikan secara masif.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menggerakkan aksi kolektif dari perusahaan media sosial, aparat hukum, badan pengatur olahraga, dan industri perjudian. Tanpa kolaborasi lintas sektor, perlindungan terhadap atlet โ terutama perempuan โ dari serangan siber akan terus menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.



