Perang Iran dan Gejolak Saham Teknologi Global: Dampaknya ke Pasar Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Konflik Iran-AS mendorong harga minyak Brent di atas $85 per barel, meningkatkan tekanan inflasi global.
- Saham teknologi Asia, termasuk KOSPI Korea Selatan, anjlok meskipun TSMC melaporkan laba kuat, dipicu kekhawatiran valuasi dan aksi jual.
- Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, namun ketegangan geopolitik tetap menjadi risiko utama.

Pasar keuangan global kembali dihadapkan pada ketidakpastian ganda: eskalasi konflik militer di Timur Tengah dan gejolak di sektor teknologi Asia. Indeks saham Eropa dan futures Wall Street kompak melemah pada Kamis (16/7), sementara harga minyak mentah Brent bertahan di atas 85 dolar AS per barel setelah serangan udara AS ke Iran memicu kekhawatiran pasokan.
Koreksi terdalam terjadi di Korea Selatan, di mana indeks KOSPI ambles nyaris 20 persen dalam sebulan terakhir, meskipun raksasa semikonduktor TSMC melaporkan pendapatan yang gemilang. Bank sentral Korea bereaksi dengan menaikkan suku bunga demi menstabilkan nilai tukar won, sementara otoritas pasar modal memperketat aturan pencatatan dana yang diduga memicu volatilitas. Langkah ini menunjukkan betapa rentannya pasar negara berkembang terhadap gejolak eksternal.
Di Eropa, indeks STOXX 600 dan futures S&P 500 serta Nasdaq ikut tertekan. Saham ASML di Amsterdam sempat menguat, tetapi tidak mampu mengimbangi pelemahan di sektor lain seperti utilitas dan telekomunikasi yang turun 0,5 hingga 1,5 persen. Sementara itu, harga minyak yang terus melonjakโnaik 11 persen dalam sepekanโmenjadi momok bagi perusahaan transportasi seperti United Airlines yang sahamnya merosot 3,1 persen.
Menurut James Athey, manajer dana di Marlborough, pasar saat ini sulit mengabaikan perang Iran, cuitan Presiden Trump, dan harga minyak karena dampaknya terhadap suku bunga global. Ia menambahkan bahwa volatilitas di pasar saham masih tinggi, terutama dalam menentukan valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) yang berkelanjutan. Sentimen negatif juga dipicu oleh jatuhnya harga saham SpaceX di bawah harga perdana untuk pertama kalinya.
Di sisi lain, data inflasi produsen dan konsumen AS yang lebih rendah dari perkiraan memberikan sedikit kelegaan. Trader kini hanya memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan ini sebesar 10 persen, turun drastis dari 43 persen awal bulan. Namun, Felix Vezina-Poirier dari BCA Research mengingatkan bahwa penurunan inflasi mungkin bersifat sementara, mengingat harga minyak dan gas yang terus naik akibat konflik Timur Tengah.
Pasar obligasi pun bereaksi beragam. Imbal hasil Treasury AS 2 tahun naik tipis ke 4,16 persen setelah turun 14 basis poin dalam dua hari terakhir. Sementara itu, imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun melonjak ke 3,13 persen, tertinggi sejak 20 Mei, karena kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akan memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga lebih agresif. Di Inggris, imbal hasil gilt 10 tahun sempat menyentuh 5 persen lagi pada Selasa lalu.
Konteks Indonesia: Eskalasi konflik Iran-AS dan volatilitas pasar global berpotensi mempengaruhi Indonesia melalui beberapa jalur. Pertama, kenaikan harga minyak akan memperberat beban subsidi energi dan mendorong inflasi impor. Kedua, pelemahan nilai tukar won dan yen dapat memicu tekanan kompetitif bagi ekspor Indonesia. Ketiga, ketidakpastian suku bunga global dapat mempengaruhi aliran modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan rupiah dan kesiapan cadangan devisa.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi lebih lanjut serta perkembangan geopolitik. Pertanyaan besarnya: akankah The Fed tetap bertahan dengan sikap hawkish meskipun inflasi melandai, atau justru tergoda untuk menahan kenaikan suku bunga demi menjaga stabilitas? Jawabannya akan menentukan arah aliran modal global, termasuk ke Indonesia.



