Perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Laga Perebutan Tempat Ketiga Bisa Jadi Penentu
Baca dalam 60 detik
- Gol pada laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia tetap dihitung untuk perburuan Sepatu Emas, membuka peluang bagi pemain dari tim yang sudah tersingkir di semifinal.
- Kylian Mbappe dan Lionel Messi memimpin daftar pencetak gol dengan masing-masing delapan gol, namun Messi unggul berkat jumlah assist lebih banyak.
- Sejarah mencatat empat dari tujuh pemenang Sepatu Emas sebelumnya membutuhkan gol di laga perebutan tempat ketiga untuk meraih penghargaan tersebut.

Pertarungan memperebutkan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 belum berakhir meski dua tim unggulan, Prancis dan Inggris, sudah tersingkir di semifinal. Sebab, gol-gol yang dicetak pada laga perebutan tempat ketiga tetap dihitung penuh dalam statistik pemain, sehingga para pencetak gol terbanyak masih berpeluang menambah pundi-pundi gol mereka.
Pertandingan antara Inggris dan Prancis pada Sabtu mendatang menjadi panggung bagi para bomber seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Harry Kane, dan Jude Bellingham untuk memperbaiki posisi mereka dalam daftar pencetak gol. Saat ini, Mbappe dan Lionel Messi memuncaki daftar dengan torehan delapan gol. Namun, Messi unggul tipis berkat satu assist lebih banyak ketimbang Mbappe sepanjang turnamen.
Di bawah mereka, Erling Haaland dari Norwegia mengantongi tujuh gol, tetapi ia sudah dipastikan absen setelah negaranya tersingkir di perempat final. Sementara itu, Bellingham dan Kane sama-sama mengoleksi enam gol, disusul Dembele dan striker Spanyol Mikel Oyarzabal dengan lima gol. Dengan dua laga tersisa—perebutan tempat ketiga dan final—persaingan masih terbuka lebar.
Sejarah mencatat, laga perebutan tempat ketiga kerap menjadi penentu gelar pencetak gol terbanyak. Dari tujuh pemenang Sepatu Emas yang pernah mencetak gol di partai tersebut, empat di antaranya benar-benar membutuhkan gol itu untuk memastikan kemenangan. Thomas Muller (Jerman, 2010), Davor Suker (Kroasia, 1998), Salvatore Schillaci (Italia, 1990), dan Leonidas (Brasil, 1938) adalah contoh nyata bagaimana satu gol di laga hiburan itu mengubah segalanya.
Namun, tidak semua pemain bergantung pada laga tersebut. Grzegorz Lato (Polandia, 1974), Eusebio (Portugal, 1966), dan Just Fontaine (Prancis, 1958) tetap menjadi topskor meski tanpa kontribusi gol di perebutan tempat ketiga. Artinya, bagi pemain seperti Mbappe atau Kane, laga Sabtu bukan hanya soal gengsi, melainkan juga peluang emas untuk menyalip Messi yang akan berlaga di final.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, persaingan ini menambah bumbu tersendiri. Meski tidak ada wakil Asia Tenggara di putaran final, ketertarikan terhadap Piala Dunia tetap tinggi, terutama dengan banyaknya pemain bintang yang masih berpeluang meraih penghargaan individu. Pertanyaan besarnya: akankah Mbappe mampu mengulang prestasinya sebagai topskor seperti edisi 2018, atau justru Messi yang akan menambah koleksi Sepatu Emasnya? Laga perebutan tempat ketiga bisa menjadi jawaban pertama.



