Airbus Pilih Scaleway untuk Cloud Pertahanan: Langkah Strategis Menuju Kedaulatan Digital Eropa
Baca dalam 60 detik
- Airbus menggandeng Scaleway, anak usaha Iliad, sebagai penyedia infrastruktur cloud untuk aplikasi industri dan pertahanan yang sensitif.
- Kemitraan ini mendukung penggunaan model AI dari Mistral, startup Prancis, yang sudah berjalan di infrastruktur Scaleway.
- Langkah ini mencerminkan dorongan Eropa terhadap kedaulatan digital, dengan target migrasi 70 aplikasi kritis pada 2028.

Airbus resmi menunjuk Scaleway, penyedia cloud milik grup telekomunikasi Prancis Iliad, sebagai mitra infrastruktur digital untuk menangani aplikasi industri dan pertahanan yang sensitif. Kesepakatan multi-tahun ini sekaligus memperkuat posisi Eropa dalam upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, terutama di era kecerdasan buatan yang semakin terintegrasi dengan sistem pertahanan dan manufaktur.
Dalam perjanjian yang diumumkan pada Kamis (16/7) itu, Scaleway akan menjadi tuan rumah bagi aplikasi kritis Airbus yang mencakup desain pesawat, rekayasa, produksi industri, hingga operasi korporat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Airbus untuk mengamankan rantai pasok digitalnya dengan mitra yang tunduk pada hukum Eropa, sebuah isu yang kian mengemuka setelah berbagai kebijakan ekstrateritorial Amerika Serikat seperti Cloud Act.
Kemitraan ini juga terkait erat dengan kerja sama Airbus bersama Mistral, startup AI asal Prancis yang telah menjalin aliansi sejak Mei lalu. Keduanya mengembangkan perangkat AI khusus untuk sektor kedirgantaraan dan pertahanan. Kepala Digital Officer Airbus, Catherine Jestin, menekankan bahwa model Mistral yang sudah berjalan di infrastruktur Scaleway akan mempercepat adopsi AI di internal perusahaan. "Fakta bahwa model Mistral sudah diterapkan di infrastruktur Scaleway memungkinkan kami mempercepat pendekatan AI," ujarnya.
Salah satu pertimbangan utama dalam pemilihan Scaleway adalah aspek kedaulatan digital. Jestin mengungkapkan bahwa Airbus menilai lebih dari 150 persyaratan teknis dan hukum sebelum memutuskan Scaleway sebagai mitra. "Kriteria kedua menyangkut persyaratan hukum, khususnya perlindungan terhadap kill switch dan penerapan hukum ekstrateritorial yang banyak diperdebatkan," jelasnya. Ini merujuk pada kekhawatiran bahwa penyedia cloud asing dapat dipaksa oleh pemerintahnya untuk menghentikan layanan atau menyerahkan data, yang menjadi risiko besar bagi industri pertahanan.
Langkah Airbus sejalan dengan tren di Eropa yang semakin menekankan kedaulatan digital, terutama setelah Komisi Eropa mengusulkan Cloud and AI Development Act pada bulan lalu. Undang-undang tersebut bertujuan memperluas kapasitas komputasi dan cloud domestik sebagai respons terhadap dominasi penyedia asal AS dan China. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya kemandirian infrastruktur digital, terutama di sektor pertahanan dan industri strategis. Ketergantungan pada penyedia cloud asing dapat menimbulkan kerentanan serupa, seperti risiko penghentian layanan atau akses data oleh otoritas asing.
Meski nilai kontrak tidak diungkapkan, skala proyek ini menunjukkan komitmen jangka panjang Airbus terhadap solusi Eropa. Dengan target migrasi 70 aplikasi kritis pada 2028 dan potensi perluasan hingga 900 aplikasi, kemitraan ini diprediksi menjadi model bagi perusahaan Eropa lainnya yang ingin menyeimbangkan inovasi dengan keamanan data. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah langkah serupa akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan di kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang juga tengah memperkuat sektor pertahanan dan industrinya?



