Memancing Ikan: Terapi Murah Meredakan Stres di Tengah Tekanan Hidup
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas memancing terbukti secara ilmiah mampu menurunkan hormon stres dan melatih kesabaran melalui mekanisme penundaan dopamin.
- Efek terapeutik dari pemandangan alam biru dan hijau saat memancing mempercepat pemulihan psikologis dari kecemasan.
- Di Indonesia, dengan jumlah pemancing global mencapai 60 juta orang, hobi ini berpotensi menjadi solusi kesehatan mental yang mudah diakses.

Di tengah himpitan ekonomi, tekanan pekerjaan, dan hiruk-pikuk media sosial, tubuh manusia tanpa sadar terus memproduksi hormon kortisol dan adrenalin—pemicu respons fight or flight yang jika berkepanjangan berujung pada burnout. Namun, sebuah aktivitas sederhana yang kerap dianggap membosankan justru menawarkan jalan keluar: memancing ikan.
Penelitian dalam jurnal Ecosystems and People (2022) memperkirakan hampir 60 juta orang di dunia gemar memancing, termasuk Indonesia yang kaya akan sumber daya perairan. Sepanjang 2024, perairan darat Indonesia menghasilkan 480 ribu ton ikan tangkapan, sementara laut menyumbang 7,3 juta ton. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi kegiatan ini di negeri maritim.
Menurut Ersa Lanang Sanjaya, dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya, kenikmatan memancing tidak semata soal hasil tangkapan. Proses menunggu itulah yang menjadi kunci. “Otak dipaksa menunda pelepasan dopamin, melatih kesabaran, dan memulihkan ritme hidup agar lebih lambat,” ujarnya dalam wawancara dengan SuarAkademia.
Efek relaksasi juga datang dari perpindahan fokus visual. Kebiasaan menatap layar laptop atau ponsel dalam jarak dekat digantikan oleh pemandangan luas bernuansa biru (laut, danau) dan hijau (hutan, kebun). Fenomena yang disebut blue and green space effect ini secara ilmiah terbukti mempercepat pemulihan fisik dan psikologis dari stres dan kecemasan.
Bagi masyarakat Indonesia yang dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, polusi udara, dan tekanan sosial, memancing bisa menjadi terapi murah yang mudah diakses. Tidak perlu peralatan mahal atau lokasi eksklusif—kolam pemancingan umum atau tepi danau sudah cukup untuk mendapatkan manfaatnya.
Ersa menambahkan bahwa aktivitas ini mengalihkan otak dari mode siaga ke mode santai. “Kebiasaan menatap objek jarak dekat yang memicu stres, seperti laptop atau kubikal kantor, sejenak dialihkan ke lanskap luas sehingga tingkat stres berkurang,” jelasnya.
Ke depan, perlu ada kesadaran lebih besar dari masyarakat dan dukungan pemerintah untuk menjadikan memancing sebagai bagian dari program kesehatan mental berbasis komunitas. Bisakah hobi yang kerap dianggap kuno ini menjadi solusi modern bagi generasi yang lelah?



