Ebola di Kongo Tembus 2.000 Kasus, Tenaga Medis Mogok Akibat Gaji Tak Dibayar
Baca dalam 60 detik
- Kasus Ebola di Kongo melampaui 2.000, dengan 754 kematian, menjadikannya wabah tercepat yang pernah tercatat.
- Tenaga kesehatan di Bunia dan Rwampara mogok kerja karena gaji dan bonus tidak dibayar, menghambat respons medis.
- Tanpa vaksin untuk virus Bundibugyo dan konflik bersenjata, penularan terus meluas di luar kendali otoritas kesehatan.

Jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menembus angka 2.011, dengan 754 di antaranya berujung kematian, menjadikan wabah ini yang tercepat penyebarannya dalam sejarah. Di tengah situasi genting itu, tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan utama di Bunia justru melakukan aksi mogok kerja pada Rabu (16/7) karena tuntutan pembayaran gaji yang tak kunjung dipenuhi.
Puluhan perawat dan petugas medis memblokade pintu masuk Rumah Sakit Umum Bunia, fasilitas kesehatan terbesar di wilayah tersebut. Mereka mengaku belum menerima upah sejak awal wabah, meski harus bekerja dalam kondisi berisiko tinggi. Aksi serupa terjadi sehari sebelumnya di pusat perawatan Ebola di Rwampara, yang baru berakhir setelah pemerintah berjanji membayar dalam 72 jam.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 100 petugas kesehatan telah tertular virus sejak wabah dimulai pada 15 Mei lalu. Angka ini menunjukkan betapa rentannya garda terdepan dalam pertempuran melawan virus Bundibugyo, strain Ebola langka yang belum memiliki vaksin maupun terapi khusus.
Kepala Darurat WHO, Dr. Chikwe Ihekweazu, mengungkapkan bahwa banyak kematian baru terjadi di komunitas, tanpa pasien sempat mendapatkan perawatan medis. Hal ini menunjukkan kegagalan sistem deteksi dini dan akses layanan kesehatan di daerah terpencil. Provinsi Ituri, yang menjadi episentrum wabah, juga dilanda konflik bersenjata dan perpindahan penduduk akibat aktivitas pertambangan, membuat pelacakan kontak menjadi sangat sulit.
Belum ditemukannya pasien nol (index case) menjadi salah satu hambatan utama. Tanpa titik awal, otoritas kesulitan memetakan penyebaran dan memutus rantai infeksi. Ditambah lagi, serangan terhadap fasilitas kesehatan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap petugas medis memperparah situasi. Dana respons yang terbatas juga membuat operasi penanganan berjalan lambat.
Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang disebabkan virus Zaire—yang sudah memiliki vaksin efektif—kali ini Kongo harus berhadapan dengan virus Bundibugyo. Belum ada vaksin atau obat yang disetujui untuk strain ini. Namun, uji klinis terhadap dua kandidat pengobatan baru telah dimulai di Ituri, memberikan secercah harapan di tengah krisis.
“Banyak pasien meninggal di rumah tanpa sempat dirawat. Ini menunjukkan kesenjangan besar dalam respons kami,” ujar Dr. Ihekweazu seusai meninjau Bunia.
Bagi Indonesia, wabah Ebola di Kongo menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular emerging. Meski risiko penularan langsung masih rendah, mobilitas global dan potensi mutasi virus membuat pengawasan ketat di pintu masuk negara menjadi krusial. Pengalaman Indonesia dalam menangani wabah sebelumnya, seperti polio dan COVID-19, menunjukkan bahwa deteksi dini dan pelacakan kontak yang cepat adalah kunci.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah pemerintah Kongo mampu membayar gaji tenaga kesehatan tepat waktu? Ataukah wabah ini akan semakin meluas karena para garda terdepan memilih mundur? Tanpa solusi segera, angka kematian diprediksi akan terus meroket.



