Banjir Rob Lumpuhkan Pesisir Surabaya, Sekolah Terpaksa Beradaptasi
Baca dalam 60 detik
- Genangan rob setinggi 40 cm merendam kawasan Kalianak, Surabaya, sejak 12 Juli dan diprediksi berlangsung hingga 17 Juli 2026.
- SD Yayasan Karya Putra di Krembangan tetap menggelar MPLS meski dua kelas terendam air asin, memaksa siswa digendong orang tua.
- BMKG memperingatkan puncak pasang terjadi pukul 09.00โ12.00 WIB dengan potensi ketinggian 120โ160 cm di atas permukaan laut.

Banjir rob yang merendam pesisir Surabaya sejak 12 Juli 2026 memaksa sebuah sekolah dasar di Krembangan beroperasi di tengah genangan air asin setinggi mata kaki, mengancam kelancaran proses belajar mengajar di masa pengenalan lingkungan sekolah.
SD Yayasan Karya Putra di Jalan Kalianak menjadi salah satu titik paling parah. Dua ruang kelas terendam air setinggi 10โ15 sentimeter, sementara akses menuju sekolah digenangi rob hingga 40 sentimeter. Guru Yuli (44) mengatakan pihaknya tidak meliburkan siswa karena bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). โKami menyesuaikan metode belajar, anak-anak melepas sepatu dan digendong orang tua saat berangkat,โ ujarnya, Rabu (15/7).
Fenomena ini bukan hal baru bagi warga Kalianak. Hendro, warga setempat, menuturkan banjir rob sudah berlangsung selama 63 tahun terakhir dengan ketinggian lebih dari 50 sentimeter. Namun, guru Nanda (60) mengamati genangan justru semakin dalam setelah proyek normalisasi Sungai Kalianak dikerjakan di belakang sekolah. โKami khawatir, air masuk lebih banyak. Kami berharap ada pihak yang peduli,โ katanya.
BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak mengonfirmasi banjir rob dipicu siklus bulan baru yang memicu pasang maksimum. Koordinator Observasi Sutarno menjelaskan, โFase new moon menyebabkan volume air laut naik signifikan.โ Imbasnya, jalan protokol seperti Kalimas dan Kalianak tergenang, memicu kemacetan karena pengendara harus melambat.
Dampak ekonomi dan kesehatan mengkhawatirkan. Sutarno memperingatkan air asin merendam infrastruktur, mempercepat korosi pada kendaraan dan bangunan. Genangan kotor berpotensi memicu penyakit kulit, batuk, dan diare. Sumber air tawar tercemar, memperparah kesulitan warga mendapatkan air bersih. Abrasi juga mengancam ekosistem mangrove di pesisir.
BMKG memetakan zona merah kerentanan di Surabaya Utara (Benowo), Timur (Kenjeran, Sukolilo), dan Barat hingga Gresik, Lamongan, Tuban. Luasnya dampak juga menjangkau pesisir Jawa Timur lain: Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Jember, Bangkalan Selatan, Sampang, dan sepanjang Selat Madura.
Untuk penanganan jangka panjang, BMKG merekomendasikan pembangunan tanggul, penyediaan pompa air, perbaikan drainase, dan pelestarian hutan mangrove. Tanpa langkah konkret, banjir rob tahunan ini akan terus menggerus aktivitas pendidikan dan ekonomi warga pesisir. Akankah pemerintah daerah merespons dengan kebijakan infrastruktur yang memadai?



