Sekolah Negeri Sepi Peminat: Fenomena SD Tanpa Murid Baru Meluas
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah SD negeri di Karanganyar, Bantul, Ponorogo, Tulungagung, dan Karangasem gagal menjaring satu pun siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
- Faktor utama meliputi lokasi geografis terpencil, menurunnya angka kelahiran, dan maraknya sekolah swasta berbasis agama yang lebih diminati.
- Dinas pendidikan setempat mulai memetakan data kependudukan dan mengevaluasi kebijakan penataan sekolah untuk mengatasi tren ini.

Fenomena sekolah dasar negeri yang tidak kebagian murid baru pada awal tahun ajaran 2026/2027 bukan lagi sekadar cerita isolatif. Di sejumlah daerah, puluhan SD negeri bahkan mencatatkan angka nol pendaftar, memicu kekhawatiran akan masa depan pendidikan publik di wilayah pinggiran.
Di Karanganyar, Jawa Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mencatat empat SD negeri yang sama sekali tidak menerima siswa baru. Kepala Disdikbud Karanganyar, Hendro Prayitno, menyebutkan sekolah-sekolah itu tersebar di Kecamatan Tawangmangu, Jatipuro, Jenawi, dan Jumantono. "Ada sekolah yang sudah dua tahun berturut-turut tidak kebagian murid," ujarnya, Rabu (15/7). Tim evaluasi telah diterjunkan untuk mengkaji penyebabnya, terutama faktor geografis dan persaingan dengan sekolah baru.
Kondisi serupa terjadi di Bantul, DI Yogyakarta. Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto, mengungkapkan bahwa 12 SD (negeri dan swasta) serta 10 SMP swasta hanya memperoleh antara nol hingga lima peserta didik baru. "Kami akan menelusuri data kependudukan untuk melihat jumlah anak usia sekolah," katanya, Selasa (14/7). Pemetaan ini menjadi dasar penataan satuan pendidikan ke depan.
Di Jawa Timur, fenomena ini mendapat sorotan DPRD Ponorogo. Ketua Komisi D, Riyanto, menilai persoalan ini bukan lagi sekadar siklus tahunan. "SD swasta berbasis agama justru membludak. Sementara SDN banyak yang minim pendaftar, bahkan empat sekolah kosong," katanya, Rabu (14/7). Menurutnya, selain keberhasilan program KB yang menekan angka kelahiran, masyarakat kini punya lebih banyak pilihan sekolah. DPRD berencana memanggil dinas pendidikan untuk mencari solusi agar sekolah negeri di wilayah pinggiran tetap bertahan.
Di Tulungagung, tiga SD negeri—SDN 4 Besuki, SDN 5 Bungur, dan satu SD swasta—tidak mendapat murid baru. Kepala Seksi Kelembagaan SD Dinas Pendidikan Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, menjelaskan bahwa SDN 4 Besuki hanya melayani Dusun Comanuk yang terpencil. "Anak usia kelas 1 minim, jadi tidak ada pendaftar," ujarnya, Senin (13/7). Meski demikian, kelas 2–6 di sekolah itu masih berjalan. Menariknya, SDN 2 Kedungwaru yang tahun lalu sepi kini kebanjiran 11 murid baru, menunjukkan bahwa kondisi bisa berubah seiring mobilitas penduduk.
Bali juga tak luput. SDN 6 Bhuana Giri di Karangasem kembali nihil pendaftar untuk tahun keempat berturut-turut. Kepala sekolah, I Made Suartika, mengaku sudah melakukan sosialisasi, tetapi jumlah penduduk sekitar sangat terbatas—hanya 50 KK, mayoritas lansia, sementara keluarga muda banyak merantau ke Denpasar. "Kami kembali tidak dapat siswa baru," katanya, Senin (13/7).
Fenomena ini mengindikasikan pergeseran demografis dan preferensi pendidikan yang perlu diantisipasi. Apakah kebijakan penataan sekolah dan insentif bagi guru di daerah terpencil mampu membalikkan tren, atau justru akan semakin banyak SD negeri yang tutup?



