Bursa Asia Bangkit, Inflasi AS Redakan Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi memicu reli di bursa Asia, dipimpin Seoul yang melonjak hingga 7 persen.
- Penurunan harga energi akibat meredanya ketegangan di Selat Hormuz menjadi faktor utama di balik inflasi yang lebih rendah.
- Meski tekanan jangka pendek mereda, analis memperingatkan potensi kenaikan suku bunga masih ada seiring ketidakpastian geopolitik dan harga minyak.

Seoul memimpin penguatan di bursa Asia pada Rabu (15/7) setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve bulan ini. Indeks Kospi melesat hingga 7 persen, didorong oleh reli saham SK hynix yang melonjak 8,8 persen setelah sebelumnya ambrol 30 persen dari rekor tertingginya.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 3,5 persen secara tahunan pada Juni, turun dari 4,2 persen di bulan sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,8 persen. Ini merupakan perlambatan inflasi paling tajam dalam enam tahun terakhir, terutama berkat penurunan harga energi setelah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, reli harga minyak masih berlanjut setelah militer AS kembali menyerang sasaran Iran dan Presiden Donald Trump memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju pelabuhan Iran. Harga minyak mentah telah naik lebih dari 10 persen sejak ketegangan kedua negara memanas pekan lalu.
Investor menyambut positif data inflasi tersebut dengan mengurangi taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga Fed bulan ini. Fiona Cincotta dari City Index menilai data inflasi yang lebih rendah akan disambut baik oleh pejabat Fed, mengurangi tekanan untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat. Namun, ia mengingatkan bahwa rebound harga minyak dan ketegangan AS-Iran dapat kembali memperumit prospek inflasi jika biaya energi tinggi berlanjut.
Stephen Innes dari SPI Asset Management menambahkan bahwa "Fed bisa tetap membiarkan senjata di atas meja tanpa menembakkannya." Menurutnya, pasar masih memperhitungkan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, dengan kemungkinan kenaikan kedua. Data IHK hanya menghilangkan pemicu langsung yang ada di depan bulan Juli.
Selain Seoul, bursa-bursa Asia lainnya juga mencatatkan penguatan, termasuk Tokyo, Hong Kong, Sydney, Singapura, Taipei, Mumbai, Bangkok, Jakarta, dan Manila. Namun, Shanghai justru melemah setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi China kuartal kedua lebih lambat dari perkiraan. Bursa Eropa seperti London, Paris, dan Frankfurt juga turun pada perdagangan awal.
Di Wall Street, saham-saham teknologi kembali bangkit setelah rilis inflasi. Raksasa perbankan seperti JP Morgan, Citigroup, Bank of America, Goldman Sachs, dan Wells Fargo melaporkan kenaikan laba di awal musim laporan keuangan kuartal kedua. Namun, IBM justru ambrol lebih dari 25 persen setelah merilis hasil pendahuluan yang mengecewakan, dengan alihan belanja pelanggan akibat ekspektasi kenaikan harga chip memori dan infrastruktur AI.
Dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya seiring menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Meski demikian, Ketua Fed Kevin Warsh memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk merayakan. Dalam sidang di Komite Jasa Keuangan DPR, ia menegaskan bahwa Fed tidak memiliki toleransi terhadap harga yang tetap tinggi dan bertekad untuk mengakhiri lonjakan inflasi yang telah berlangsung bertahun-tahun. "Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujarnya.
Bagi Indonesia, meredanya tekanan inflasi AS dan potensi penundaan kenaikan suku bunga Fed memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak netto.



