Dua Penulis Jepang Raih Akutagawa dan Naoki: Cerita Zombi hingga Perlawanan Perempuan Feodal
Baca dalam 60 detik
- Chito Kosagawa memenangi Akutagawa Prize lewat novel tentang perempuan dalam dunia game zombi, sementara Kasumi Asakura menyabet Naoki Prize dengan kisah perempuan melawan penindasan di era Edo.
- Asakura, 65 tahun, menjadi pemenang Naoki Prize tertua sepanjang sejarah, menandai pengakuan terhadap perspektif penulis senior dalam sastra populer Jepang.
- Penghargaan bergengsi ini tidak hanya mengukuhkan bakat sastra, tetapi juga membuka peluang penerjemahan dan adaptasi yang berpotensi menjangkau pasar Indonesia.

Dua penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang, Akutagawa Prize dan Naoki Prize, jatuh ke tangan Chito Kosagawa dan Kasumi Asakura dalam pengumuman yang berlangsung di Tokyo, Rabu (16/7). Kosagawa, 36 tahun, meraih Akutagawa Prize untuk novelnya yang bertajuk "Zombi Kaishufu" (The Zombie Collector), sementara Asakura, 65 tahun, memenangi Naoki Prize lewat karya berjudul "Kenguwai" (Out of Range).
Akutagawa Prize selama ini dikenal sebagai ajang bagi penulis muda atau pendatang baru di ranah sastra serius, sedangkan Naoki Prize menyasar penulis fiksi populer yang sudah memiliki pengalaman. Kemenangan Kosagawa dan Asakura pun menjadi sorotan karena masing-masing menghadirkan tema yang kontras: dunia virtual yang absurd versus perlawanan perempuan di masa feodal.
Kosagawa, yang berasal dari Morioka, Prefektur Iwate, mengaku tak mampu berkata-kata saat menerima penghargaan tersebut. "Saya sangat gembira hingga pikiran saya kosong," ujarnya dalam konferensi pers. Novelnya mengisahkan seorang perempuan yang tenggelam dalam dunia virtual permainan video yang dipenuhi zombi. Hikaru Okuizumi, anggota komite seleksi Akutagawa, menilai Kosagawa berhasil membangun dunia fiksi hanya dengan kekuatan kata-kata.
Sementara itu, Asakura yang berasal dari Hokkaido menulis novel berlatar zaman Edo (1603โ1868). "Kenguwai" menggambarkan perempuan-perempuan yang berani melawan pelecehan dan penindasan yang mereka alami. "Sejak debut, saya ingin menjadi 'penulis perempuan tua', jadi saya sangat bahagia," kata Asakura, yang kini tercatat sebagai pemenang Naoki Prize tertua. Novelis Mizuki Tsujimura, yang duduk di panel juri, mengatakan bahwa Asakura "menyinari bagaimana perempuan bisa hidup" melalui tulisannya.
Kemenangan dua penulis ini memiliki resonansi tersendiri bagi pembaca di Indonesia. Tema perlawanan perempuan dalam setting sejarah Jepang, misalnya, dapat dibandingkan dengan novel-novel sejarah Indonesia seperti "Bumi Manusia" atau karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang mengangkat suara perempuan tertindas. Sementara itu, eksplorasi dunia game dalam sastraโseperti yang dilakukan Kosagawaโsemakin relevan di tengah maraknya budaya populer dan adaptasi novel ke film atau serial di Indonesia. Penerjemahan karya-karya pemenang penghargaan Jepang kerap dinantikan oleh penerbit lokal, dan kedua novel ini berpotensi menyusul jejak Haruki Murakami atau Yoko Ogawa yang sudah populer di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tema-tema yang diangkat Kosagawa dan Asakura akan mampu menembus pasar global, termasuk Indonesia, di tengah dominasi sastra berbahasa Inggris. Dengan hadiah uang yang relatif kecil (1 juta yen atau sekitar Rp 100 juta), prestise kedua penghargaan ini justru terletak pada pengakuan institusi dan lonjakan penjualan buku yang biasanya menyusul. Bagi pembaca Indonesia yang gemar menyelami sastra Jepang, dua nama baru ini layak dinantikan karya terjemahannya.



