Pergeseran Opini Global: China Kini Dipandang Lebih Positif dari AS, Survei Pew Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Survei Pew Research Center menunjukkan untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, China mendapat penilaian lebih positif dibanding AS di 25 dari 36 negara.
- Penurunan citra AS dipicu kebijakan kontroversial Trump, termasuk perang dagang dan konflik global, sementara China dianggap lebih stabil.
- Indonesia sebagai negara non-blok perlu mencermati perubahan persepsi ini karena berdampak pada keseimbangan geopolitik dan kerja sama ekonomi.

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, opini publik global lebih memihak China ketimbang Amerika Serikat. Sebuah survei terbaru dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa Beijing kini dipandang lebih positif di 25 dari 36 negara yang disurvei, menandai pergeseran signifikan dalam peta persepsi internasional.
Survei yang dilakukan pada Februari hingga Mei 2025 ini melibatkan lebih dari 42.000 responden di 35 negara, termasuk kawasan Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya enam negara yang masih menilai AS lebih unggul dari China, yaitu Israel, Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Di luar itu, mayoritas negaraโtermasuk sekutu tradisional AS seperti Kanada, Meksiko, dan negara-negara Eropaโkini lebih menyukai China.
Laura Silver, Associate Director Pew's Global Attitudes Research, menyebut ini adalah perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Pandangan terhadap Beijing dan Washington sempat berdekatan, tetapi belum pernah China unggul secara signifikan hingga sekarang," ujarnya. Faktor utama yang mendorong pergeseran ini adalah menurunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan AS di bawah Donald Trump, terutama terkait kebijakan luar negeri yang dianggap agresif dan tidak stabil.
Kebijakan Trump seperti tuntutan terhadap Greenland, operasi militer di Venezuela, serta dukungan penuh terhadap Israel dalam perang di Gaza dinilai telah mengikis citra AS sebagai penjaga perdamaian. "Amerika dinilai tidak lagi berkontribusi pada stabilitas global," kata Silver. Sebaliknya, China muncul sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan, terutama setelah pandemi COVID-19 mulai mereda dan memori buruk terhadap asal-usul virus memudar.
Pergeseran ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Sebagai negara dengan posisi strategis di Asia Tenggara, Indonesia kerap menjadi ajang persaingan pengaruh antara AS dan China. Jika tren ini berlanjut, China berpotensi memperkuat dominasinya di kawasan melalui investasi dan kerja sama infrastruktur, sementara AS harus bekerja keras memulihkan citranya. Bagi Indonesia, hal ini berarti peluang diplomasi yang lebih luas, namun juga risiko ketergantungan ekonomi yang lebih besar pada Beijing.
Meski demikian, survei juga mencatat bahwa AS masih unggul dalam hal penghormatan terhadap kebebasan individu. Namun, jaraknya semakin menyempit karena banyak negara menilai pemerintah AS kini kurang menghormati hak warganya sendiri. "Penurunan ini didorong oleh persepsi bahwa AS tidak lagi menjadi teladan dalam kebebasan pribadi," tulis laporan Pew.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pergeseran opini ini bersifat sementara atau akan menjadi tren jangka panjang. Dengan pemilu AS yang akan datang dan kebijakan luar negeri yang mungkin berubah, dinamika ini patut dicermati. Bagi Indonesia, menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua raksasa ekonomi dunia menjadi semakin krusial di tengah perubahan peta persepsi global.



