Pemulihan Kebun Kopi Aceh Terhambat Infrastruktur Rusak, Produksi Nasional Terancam
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang November 2025 merusak lebih dari 12.600 hektar kebun kopi di Aceh Tengah, mengancam pasokan kopi Gayo premium.
- Akses jalan produksi yang masih terputus dan fokus petani pada kebutuhan pangan memperlambat rehabilitasi lahan.
- Pemerintah mengusulkan program restorasi 18.000 hektar pada 2026, namun keterlibatan swasta dan pendampingan teknis masih menjadi kunci.

Lebih dari delapan bulan pascabanjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025, pemulihan kebun kopi di kawasan tersebut masih jauh dari selesai. Ribuan hektar lahan perkebunan kopi—khususnya kopi Gayo andalan Aceh—rusak parah, sementara infrastruktur pendukung seperti jalan produksi dan jembatan belum sepenuhnya berfungsi. Kondisi ini tidak hanya mengancam mata pencaharian puluhan ribu petani, tetapi juga berpotensi menekan produksi kopi nasional yang tengah berada dalam tren peningkatan.
Menurut data Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, dari total 52.074 hektar kebun kopi di wilayah itu, seluas 12.637 hektar mengalami kerusakan akibat bencana. Anshary, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Aceh Tengah, mengungkapkan bahwa sedikitnya 175 ruas jalan menuju sentra produksi kopi rusak, mayoritas akibat longsor. “Jalan-jalan menuju ke sentral produksi atau di sekitar perkebunan kopi, itu ada lebih kurang 175 ruas yang mengalami kerusakan. Kerusakannya umumnya (karena) longsor,” ujarnya dalam diskusi daring. Akibatnya, petani kesulitan mengangkut hasil panen dan bantuan logistik pun terhambat.
Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, menambahkan bahwa hingga kini beberapa akses ke kebun petani masih tertimbun longsor. “Sampai hari ini beberapa jalan produksi menuju ke kebun-kebun petani itu belum bisa dilewati dengan baik, malahan masih ada yang tertimpa longsor,” katanya. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memulihkan akses minimal untuk sepeda motor guna mengangkut kopi dari kebun ke titik kumpul desa.
Di tengah keterbatasan, para petani masih berfokus pada kebutuhan pangan sehari-hari. Salman merekomendasikan sistem wanatani—menanam tanaman pangan seperti padi gugu di sela-sela kebun kopi—sebagai solusi sementara. “Sekarang untuk Kecamatan Kute Panang, saya sedang mencoba untuk tanam padi gugu,” ujarnya. Ia berharap bantuan tidak hanya bersifat material, tetapi juga pendampingan teknis agar petani bisa bangkit secara berkelanjutan.
Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi Indonesia pada 2025 mencapai 832.600 ton, naik 2% dari tahun sebelumnya, dengan luas kebun 1,2 juta hektar. Christieni Maria, Kepala Divisi Komoditas Kopi dan Teh Kementan, mengakui bahwa bencana di Sumatera menjadi tantangan serius. “Secara geografis Indonesia beruntung, namun perkebunan kopi juga menghadapi persoalan ekologis,” katanya. Pemerintah berencana memperluas dan meremajakan 86.000 hektar kebun kopi pada 2026, dengan usulan khusus untuk Aceh seluas 18.000 hektar. Bantuan akan berupa benih dan upah tenaga kerja, namun angka tersebut masih dapat disesuaikan berdasarkan data terbaru dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.
SCOPI, organisasi non-profit yang fokus pada sektor kopi, telah menjalankan program pemulihan tiga fase. Fase respons darurat berlangsung Desember 2025 hingga Januari 2026, dilanjutkan verifikasi kerusakan hingga Juli 2026, dan fase restorasi jangka panjang. Irvan Helmi, Ketua Dewan Pengurus SCOPI, menyebutkan bahwa dana Rp341 juta dari penggalangan dana telah disalurkan, termasuk untuk trauma healing bagi 50 anak di Desa Blang Merah, Lut Tawar. “Penerima manfaat dari bantuan itu 951 keluarga di 71 desa dalam 17 kecamatan,” jelasnya.
Ke depan, rehabilitasi kebun kopi pascabencana membutuhkan sinergi lintas sektor. Anshary menekankan perlunya keterlibatan swasta dan masyarakat agar pemulihan tidak setengah-setengah. “Bagaimana supaya masa transisi dari bencana ke pemulihan itu betul-betul dapat dijalankan. Masyarakat bisa menghilangkan trauma terhadap bencana,” ujarnya. Pertanyaan besarnya: mampukah pemerintah dan para pemangku kepentingan mempercepat pemulihan sebelum musim panen berikutnya tiba, atau produksi kopi Gayo yang mendunia akan terus tertekan?



