Harga BBM Nonsubsidi Malaysia Naik, Konflik Iran Picu Kenaikan Minyak Mentah
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia menaikkan harga bensin RON95 nonsubsidi sebesar 5 sen dan solar 10 sen per liter mulai 16-22 Juli 2026.
- Kenaikan dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak mentah Brent ke US$85 per barel.
- Harga BBM bersubsidi tetap stabil, namun volatilitas pasar global diperkirakan berlanjut selama konflik belum mereda.

Pemerintah Malaysia kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Semenanjung Malaysia menyusul meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Kenaikan harga bensin RON95 dan solar nonsubsidi berlaku selama periode 16-22 Juli 2026, dengan besaran masing-masing 5 sen dan 10 sen per liter.
Kementerian Keuangan Malaysia dalam pernyataan resmi, Rabu (17/7), mengonfirmasi bahwa harga eceran RON95 nonsubsidi naik menjadi RM3,42 per liter dari sebelumnya RM3,37. Sementara itu, harga solar nonsubsidi melonjak menjadi RM4,07 per liter dari RM3,97. Adapun harga RON97 tetap bertahan di RM4,00 per liter.
Keputusan ini tidak lepas dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Menurut kementerian, faktor-faktor tersebut telah meningkatkan premi risiko minyak mentah dan biaya pengiriman. Harga minyak mentah Brent tercatat mencapai US$85 per barel, melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan terakhir.
Di sisi lain, harga BBM bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah tidak mengalami perubahan. Program Budi95 menjaga harga RON95 bersubsidi tetap di RM1,99 per liter, sementara inisiatif Budi Madani Diesel mempertahankan harga solar bersubsidi di RM2,10 per liter bagi pemilik kendaraan diesel pribadi yang memenuhi syarat.
Kementerian Keuangan mengimbau masyarakat untuk menggunakan bahan bakar secara bijak guna menjaga stabilitas pasokan nasional. Perencanaan perjalanan yang lebih efisien dan pengurangan perjalanan yang tidak perlu disebut dapat membantu memperpanjang pasokan dan meringankan beban belanja subsidi.
Bagi Indonesia, kenaikan harga BBM di Malaysia ini menjadi pengingat akan kerentanan harga energi regional terhadap gejolak geopolitik. Meskipun Indonesia memiliki kebijakan subsidi sendiri, fluktuasi harga minyak global tetap berdampak pada anggaran subsidi energi dan harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai potensi tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak, terutama jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan.
Ke depan, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda. Pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia dan Malaysia, mampu menahan dampak kenaikan harga tanpa mengganggu daya beli masyarakat dan stabilitas fiskal.



