The Batman Part II Mundur ke 2028, Jarak Enam Tahun Jadi Rekor Baru Superhero
Baca dalam 60 detik
- Warner Bros. kembali menggeser jadwal rilis The Batman Part II ke 18 Februari 2028, memperpanjang jeda dari film pertama menjadi hampir enam tahun.
- Keterlambatan ini memicu perdebatan tentang strategi studio di tengah persaingan ketat industri superhero, meski James Gunn membela tren jarak rilis panjang.
- Penundaan juga berdampak pada jadwal film lain seperti The Great Beyond dan Panic Carefully, serta membuka peluang bagi film horor Revenge of La Llorona.

Warner Bros. kembali menunda perilisan The Batman Part II, kali ini hingga 18 Februari 2028, menjadikan jeda antara film pertama dan sekuelnya hampir enam tahun—sebuah rekor baru di jagat superhero modern. Keputusan ini diumumkan bersamaan dengan perilisan cuplikan pertama Robert Pattinson kembali beraksi sebagai Batman, yang langsung memicu spekulasi tentang arah cerita dan strategi DC Studios.
Film garapan Matt Reeves ini awalnya dijadwalkan tayang Oktober 2026, lalu mundur ke Oktober 2027, dan kini meleset lagi ke awal 2028. Dengan rilis film pertama pada Maret 2022, para penggemar harus menunggu nyaris enam tahun untuk menyaksikan kelanjutan kisah detektif Gotham tersebut. Meski demikian, Reeves bersama rekan penulis Mattson Tomlin dikabarkan masih terus menggarap naskah, sementara detail plot dan peran para pemain baru—seperti Scarlett Johansson, Sebastian Stan, hingga Charles Dance—masih dirahasiakan.
Penundaan ini memicu reaksi beragam, terutama di tengah persaingan ketat industri superhero. James Gunn, salah satu pimpinan DC Studios, membela keputusan tersebut dengan merujuk pada sejarah jarak rilis panjang di film-film besar, seperti 7 tahun antara Alien dan Aliens, 14 tahun antara The Incredibles, hingga 36 tahun antara Top Gun dan sekuelnya. “Jeda lima tahun atau lebih cukup umum dalam sekuel,” tulis Gunn di Threads. Namun, bagi penggemar yang sudah menanti sejak 2022, angka enam tahun terasa sangat lama, apalagi jika dibandingkan dengan ritme rilis Marvel yang lebih cepat.
Bagi penonton Indonesia, penundaan ini mungkin tidak terlalu mengejutkan mengingat tren konsumsi film superhero di dalam negeri yang masih didominasi oleh waralaba besar seperti Marvel. Meski The Batman versi pertama mendapat sambutan positif berkat pendekatan noir yang gelap, popularitasnya di Indonesia belum setinggi film DC lain seperti Aquaman atau Joker. Dengan jeda panjang, risiko kehilangan momentum dan minat penonton lokal pun mengintai, apalagi jika tidak ada kampanye pemasaran yang kuat di tahun-tahun mendatang.
Di sisi lain, Warner Bros. juga melakukan penataan ulang jadwal rilis secara keseluruhan. Film misteri J.J. Abrams, The Great Beyond, yang dibintangi Glen Powell dan Jenna Ortega, bergeser dari November 2026 ke Oktober 2027—slot yang sebelumnya ditempati The Batman Part II. Studio menyebut proyek tersebut sebagai “tontonan empat kuadran” yang akan mendapat perilisan IMAX 70mm, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk produksi cetak film. Sementara itu, thriller Panic Carefully arahan Sam Esmail dengan Julia Roberts mundur ke April 2027, dan film horor Revenge of La Llorona mengisi slot Februari yang ditinggalkan.
Penundaan berulang ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi jangka panjang DC Studios di bawah kepemimpinan James Gunn dan Peter Safran. Di satu sisi, memberi ruang kreatif bagi Reeves untuk menyempurnakan visinya bisa menghasilkan kualitas yang lebih baik. Namun, di sisi lain, risiko kehilangan basis penggemar dan meningkatnya biaya produksi akibat inflasi bisa menjadi bumerang. Apakah The Batman Part II akan menjadi sekuel yang layak ditunggu, atau justru menjadi korban dari ambisi studio yang terlalu besar? Hanya waktu yang akan menjawab, setidaknya hingga 2028.



