Apple Berburu Startup Chip untuk Percepat Pengembangan Server AI
Baca dalam 60 detik
- Apple dikabarkan menjajaki akuisisi perusahaan rintisan chip guna memperkuat kemampuan server AI-nya yang saat ini masih bergantung pada chip M2 Ultra.
- Proyek chip server AI internal Apple, 'Baltra', mengalami penundaan, sementara uji coba model Gemini Google gagal berjalan di chip buatan sendiri.
- Dengan kas lebih dari USD45 miliar, Apple mulai mengubah strategi akuisisi yang selama ini konservatif demi mengejar ketertinggalan di bidang AI.

Apple tengah menjajaki akuisisi sejumlah perusahaan rintisan di bidang semikonduktor untuk mempercepat pengembangan prosesor server kecerdasan buatan (AI) miliknya. Langkah ini diambil setelah raksasa teknologi asal Cupertino itu menghadapi kendala performa pada chip buatan sendiri yang digunakan untuk menjalankan beban kerja AI.
Menurut laporan The Information yang mengutip sumber internal, Apple telah menghubungi beberapa startup chip untuk mengukur minat mereka terhadap akuisisi. Perusahaan yang dipimpin Tim Cook itu juga telah berdiskusi dengan bankir investasi mengenai kemungkinan kesepakatan. Ini menandai perubahan strategi signifikan bagi Apple yang selama ini dikenal sangat selektif dalam melakukan akuisisi besar.
Sejauh ini, server AI Apple mengandalkan chip M2 Ultra yang dirancang sendiri. Namun, chip tersebut dinilai belum mampu menangani model AI berskala besar secara efisien. Pada awal tahun ini, Apple sempat mencoba menjalankan model Gemini milik Google di server internalnya sebagai bagian dari pembaruan Siri. Hasilnya, chip berbasis Mac tersebut tidak sanggup memproses model besar, sehingga Apple terpaksa menggunakan chip Nvidia yang disewa dari infrastruktur cloud Google untuk sebagian fungsi asisten virtual yang diperbarui.
Keterbatasan chip buatan sendiri ini menjadi titik lemah Apple di tengah perlombaan AI global. Sementara kompetitor seperti Microsoft dan Google gencar membangun infrastruktur AI dengan chip khusus, Apple masih bergantung pada arsitektur yang dirancang untuk perangkat konsumen. Penundaan proyek 'Baltra'—chip server AI generasi berikutnya—semakin mempertegas tantangan teknis yang dihadapi perusahaan.
Dari sisi keuangan, Apple memiliki modal besar untuk berburu akuisisi. Dengan kas lebih dari USD45 miliar, perusahaan bisa dengan mudah mengakuisisi startup chip bernilai miliaran dolar. Namun, budaya akuisisi Apple yang cenderung kecil dan terfokus—seperti pembelian Q.ai sebesar ratusan juta dolar—menunjukkan bahwa perusahaan lebih suka menambah teknologi spesifik ketimbang mengintegrasikan perusahaan besar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat rantai pasok semikonduktor global yang semakin terintegrasi. Apple selama ini menggandeng pemasok dari berbagai negara, termasuk Indonesia melalui investasi di sektor manufaktur. Jika Apple berhasil memperkuat kemampuan chip AI-nya, dampaknya bisa dirasakan pada efisiensi layanan berbasis AI yang digunakan konsumen di Tanah Air, seperti Siri dan fitur-fitur iOS lainnya. Di sisi lain, persaingan ketat di sektor chip AI juga membuka peluang bagi negara-negara produsen semikonduktor untuk menarik investasi.
Langkah Apple ini juga menjadi sinyal bahwa pengembangan chip AI in-house bukanlah perkara mudah, bahkan bagi perusahaan dengan sumber daya melimpah. Pertanyaan besarnya, apakah Apple akan mengubah pendekatan akuisisi yang selama ini hati-hati demi mengejar ketertinggalan, atau tetap bertahan dengan strategi organik yang lebih lambat? Jawabannya akan menentukan posisi Apple dalam peta persaingan AI lima tahun ke depan.



