Atletik Eropa Larang Pengambilan Gambar Seksual Atlet Wanita: Pedoman Baru untuk Kamera
Baca dalam 60 detik
- European Athletics dan EBU merilis pedoman siaran untuk mencegah seksualisasi atlet perempuan melalui sudut kamera dan tayangan ulang.
- Atlet melaporkan bahwa pengambilan gambar tertentu mengganggu konsentrasi dan mengalihkan perhatian dari performa olahraga.
- Pedoman ini mendorong penggunaan sudut kamera lebar dan inovatif untuk fokus pada teknik atletik, bukan fisik atlet.

European Athletics bersama European Broadcasting Union (EBU) resmi meluncurkan pedoman penyiaran yang bertujuan menghentikan praktik seksualisasi atlet perempuan melalui sudut kamera dan tayangan ulang. Langkah ini muncul setelah masukan dari para atlet yang mengaku kerap merasa tidak nyaman dan terganggu oleh pengambilan gambar yang tidak semestinya.
Pedoman tersebut secara spesifik melarang penggunaan close-up berkepanjangan pada bagian tubuh tertentu, sudut rendah yang diambil dari belakang atau bawah atlet, serta tayangan ulang lambat yang tidak relevan dengan pemahaman aksi olahraga. Aturan ini dirancang untuk memastikan liputan tetap berfokus pada performa atletik dan mengurangi risiko penyalahgunaan cuplikan di media sosial.
Presiden European Athletics, Dobromir Karamarinov, menegaskan bahwa pengembangan pedoman ini merupakan langkah krusial untuk menghilangkan penggambaran yang merugikan perempuan dalam olahraga, tanpa mengorbankan kualitas cerita dan teknis penyiaran. "Kami ingin menjaga standar tertinggi dalam bercerita namun tetap menghormati atlet," ujarnya.
Mantan juara dunia lompat jauh, Ivana Spanovic, mendukung inisiatif ini dengan menyarankan penggunaan sudut kamera inovatif seperti aerial views dan grafik edukatif. Menurutnya, olahraga atletik menawarkan banyak peluang untuk menampilkan teknik dan keindahan gerakan, misalnya melalui slow-motion yang menyoroti presisi teknis seperti momen tolakan atau langkah sempurna.
Di Indonesia, isu serupa juga relevan mengingat semakin maraknya siaran olahraga internasional yang dikonsumsi publik. Pedoman ini bisa menjadi acuan bagi penyiar lokal untuk lebih sensitif dalam mengemas tayangan atletik, terutama dalam ajang seperti Asian Games atau Olimpiade. Selain itu, atlet Indonesia juga berpotensi mendapat manfaat dari lingkungan siaran yang lebih profesional dan menghormati privasi.
Ke depan, implementasi pedoman ini akan diawasi oleh komite khusus yang dibentuk oleh European Athletics dan EBU. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana pedoman ini dapat diadopsi secara global, mengingat perbedaan budaya dan standar penyiaran di berbagai negara. Namun, langkah ini setidaknya menjadi titik awal untuk perubahan positif dalam industri olahraga.



