Bouaddi, Mainoo, dan Masa Depan Lini Tengah Manchester United
Baca dalam 60 detik
- Manchester United dikabarkan mengincar gelandang muda Lille, Ayyoub Bouaddi, yang tampil impresif di Piala Dunia bersama Maroko.
- Bouaddi dinilai memiliki gaya bermain serupa Kobbie Mainoo, dengan kemampuan dribel dan visi bermain yang menonjol meski statistiknya tidak mentereng.
- Jika transfer jadi, Bouaddi akan bergabung dengan Mainoo dan Tielemans membentuk trio gelandang teknis yang bisa menjadi fondasi jangka panjang Setan Merah.

Manchester United tengah mematangkan rencana perekrutan gelandang muda Lille, Ayyoub Bouaddi, yang namanya melesat setelah penampilan gemilang bersama Maroko di Piala Dunia. Klub asal Prancis itu dikabarkan membanderol pemain berusia 18 tahun tersebut dengan harga sekitar €100 juta atau setara £85 juta.
Menurut laporan The Athletic yang dikutip oleh David Ornstein, INEOS selaku pemilik Manchester United telah menjalin komunikasi dengan agen Bouaddi selama setahun terakhir. Ketertarikan ini muncul setelah United sukses mendatangkan Youri Tielemans dan Andrey Santos di bursa transfer musim panas ini dengan total biaya £85 juta. Dengan kepergian Casemiro dan cedera panjang Manuel Ugarte, lini tengah menjadi prioritas utama pelatih Michael Carrick.
Bouaddi, yang telah mencatatkan hampir 100 penampilan senior bersama Lille, menunjukkan kematangan luar biasa di usia mudanya. Dalam laga melawan Brasil di fase grup Piala Dunia, ia tampil dominan sebagai gelandang bertahan yang mampu memutus serangan lawan sekaligus membangun serangan dari belakang. Gaya bermainnya yang elegan dan tenang mengingatkan pada Kobbie Mainoo, gelandang muda United yang kini menjadi andalan Carrick.
Perbandingan statistik antara Bouaddi dan Mainoo di musim lalu menunjukkan kemiripan yang menarik. Bouaddi rata-rata melakukan 1,1 dribel sukses per pertandingan di Ligue 1, sementara Mainoo mencatatkan 0,8 dribel sukses. Keduanya juga sama-sama jarang dilewati lawan—Bouaddi hanya 0,5 kali per laga, Mainoo 0,4 kali. Meski tidak menonjol dalam hal gol atau assist, kontribusi mereka dalam mengatur tempo dan menjaga keseimbangan tim sangat dihargai.
Keputusan Lille untuk menunda negosiasi hingga Piala Dunia berakhir menunjukkan keyakinan mereka bahwa nilai Bouaddi akan semakin meningkat. Jika United serius, mereka harus bersaing dengan Arsenal yang juga dikabarkan tertarik. Namun, kehadiran Carrick yang dikenal gemar mengembangkan pemain muda bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa kini berlomba merekrut talenta muda dari Afrika. Maroko, yang sukses menembus semifinal Piala Dunia 2022, terus melahirkan pemain-pemain berkualitas seperti Bouaddi. Ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk lebih serius dalam pembinaan usia dini.
Jika transfer Bouaddi terealisasi, Manchester United akan memiliki tiga gelandang teknis—Mainoo, Tielemans, dan Bouaddi—yang bisa saling melengkapi. Pertanyaannya, akankah Carrick mampu meramu mereka menjadi lini tengah yang solid tanpa mengorbankan keseimbangan defensif? Atau justru United masih membutuhkan seorang gelandang bertahan murni tipe "pemutus" untuk melengkapi skema tersebut?



