People's Park Centre Kembali Dilelang: Harga Turun Jadi Rp 17,1 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Properti ikonik di Chinatown Singapura itu kembali dijual dengan harga S$1,48 miliar, turun 18% dari harga sebelumnya yang gagal menarik minat.
- Lokasi strategis di pusat kota dan rencana pembangunan hunian vertikal di sekitarnya menjadi daya tarik utama bagi pengembang.
- Jika sukses, proyek ini bisa menjadi model revitalisasi kawasan pusat kota di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

People's Park Centre, properti ikonik di kawasan Chinatown Singapura, kembali dilelang untuk ketiga kalinya dengan harga panduan S$1,48 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun. Angka ini turun signifikan dari harga sebelumnya yang mencapai S$1,8 miliar pada 2022, yang gagal menarik satu pun penawar.
Properti yang selesai dibangun pada 1976 ini terdiri dari dua blokโ13 lantai dan 30 lantaiโdengan total 324 unit ritel, 256 unit perkantoran, 120 unit hunian, serta tempat parkir bertingkat. Luas lahannya mencapai 95.467 kaki persegi dengan frontage sepanjang 124 meter di sepanjang Eu Tong Sen Street. Lokasinya bersebelahan dengan Stasiun MRT Chinatown, memberikan akses langsung ke Jalur MRT Timur Laut dan Pusat Kota.
Kegagalan dua lelang sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Pada 2019, harga S$1,35 miliar gagal karena tidak mendapat persetujuan mayoritas pemilik. Sedangkan pada 2022, harga S$1,8 miliar terlalu tinggi sehingga tidak ada pengembang yang berminat. Kini, ERA Realty Network selaku agen penjual menurunkan ekspektasi harga dengan harapan menarik minat lebih banyak investor.
Menurut ERA, kawasan sekitar sedang mengalami transformasi besar. Pada Maret lalu, Menteri Pembangunan Nasional Chee Hong Tat mengumumkan rencana pembangunan 60 lantai hunian Build-To-Order (BTO) di Pearl's Hillโproyek perumahan publik tertinggi di Singapura dan yang pertama dalam 40 tahun terakhir. ERA menilai revitalisasi ini akan meningkatkan vitalitas kawasan dan mendukung aktivitas komersial di masa depan.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat tren revitalisasi kawasan pusat kota di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Proyek serupa seperti redevelopment kawasan Thamrin atau Kota Tua Jakarta bisa belajar dari strategi penurunan harga dan penyesuaian ekspektasi pasar. "Peluang sebesar ini jarang muncul di pasar," ujar Sunny Wong, direktur divisi ERA. "Ditambah dengan rejuvenasi kawasan sekitar, kami yakin People's Park Centre akan menarik minat kuat dari pengembang yang ingin menghadirkan proyek ikonik."
Tender akan dibuka pada Kamis dan ditutup 16 September pukul 15.00 waktu setempat. Pertanyaan besarnya: akankah penurunan harga cukup untuk mengubah nasib properti ini, ataukah pasar masih menunggu sinyal lain? Jawabannya akan menjadi indikator penting bagi pasar properti komersial di Asia Tenggara.



