Pembalap Norwegia Soren Waerenskjold Menang Dramatis di Etape 11 Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Soren Waerenskjold dari Uno-X Mobility menang sprint etape 11 Tour de France, sehari setelah finis terakhir.
- Etape 11 menjadi yang tercepat dalam sejarah Tour de France dengan kecepatan rata-rata 50,9 km/jam.
- Klasemen umum tidak berubah; Tadej Pogacar masih aman di puncak.

Pembalap Norwegia Soren Waerenskjold mencatatkan kebangkitan spektakuler di Tour de France, Rabu (15/7), dengan memenangi etape 11 di Nevers hanya sehari setelah finis terakhir di etape sebelumnya. Pebalap tim Uno-X Mobility itu melesat dalam sprint panjang dan menahan ketat pebalap Belanda Olav Kooij (Decathlon CMA CGM) untuk merebut kemenangan perdana di ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia.
Etape sejauh 161,3 kilometer dari Vichy ke Nevers ini berlangsung dengan kecepatan luar biasa. Rata-rata kecepatan mencapai 50,9 km/jam, menjadikannya etape tercepat dalam sejarah Tour de France. "Ini adalah kemenangan terbesar saya sejauh ini. Luar biasa, saya perlu waktu untuk mencernanya," ujar Waerenskjold usai balapan.
Di garis finis, Jasper Philipsen (Alpecin-Premier Tech) awalnya finis ketiga, tetapi kemudian didiskualifikasi karena pelanggaran di sprint akhir. Posisi ketiga pun diberikan kepada pebalap Belgia Milan Fretin (Cofidis). Sementara itu, pebalap Belgia lainnya, Tim Merlier, yang sebelumnya memenangi dua etape sprint, gagal mencetak hat-trick dan finis di luar 10 besar.
Balapan etape 11 diwarnai aksi empat pembalap yang memimpin sejak awal: Julian Alaphilippe, Mathis Le Berre, Nelson Oliveira, dan Anthon Charmig. Mereka melancarkan serangan di jalan basah sekitar Vichy. Namun, peleton yang digerakkan oleh tim-tim pendukung sprinter seperti Biniam Girmay, Merlier, Max Kanter, dan kemudian Kooij, terus mengontrol jarak. Para pemimpin akhirnya tersusul dalam enam kilometer terakhir.
Le Berre berhasil mengumpulkan poin maksimal di sprint intermediet, sementara pebalap Denmark Mads Pedersen memperlebar keunggulannya di klasemen poin (green jersey) dengan finis di depan Girmay. Charmig menguasai kedua tanjakan kategori empat. Insiden terjadi di zona makan saat Ben O'Connor, Abel Balderstone, dan Georg Zimmermann jatuh, namun mereka bisa melanjutkan balapan setelah mendapat perawatan.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kemenangan Waerenskjold menjadi bukti bahwa persaingan di Tour de France tidak hanya didominasi oleh tim-tim besar. Tim Uno-X Mobility yang relatif kecil mampu bersaing di level tertinggi. Kecepatan rata-rata yang memecahkan rekor juga menunjukkan peningkatan performa atlet dan teknologi sepeda yang semakin canggih. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi pembalap Indonesia yang bercita-cita tampil di kancah internasional.
Dengan tidak adanya perubahan signifikan di klasemen umum, Tadej Pogacar masih kokoh di puncak. Pertanyaannya, akankah Waerenskjold mampu mengulangi performanya di etape-etape mendatang? Atau justru akan kembali tenggelam seperti sebelumnya? Tour de France masih panjang, dan kejutan seperti ini selalu dinanti.



