Investor China Habiskan Rp30 M Demi Bawa Mantan Istri Penipu ke Pengadilan
Baca dalam 60 detik
- Seorang investor saham asal Shenzhen mengeluarkan biaya hukum dan detektif swasta hingga 13 juta yuan selama sembilan tahun untuk mengejar mantan istri yang melarikan diri ke AS.
- Sang mantan istri, Zhang Shudan, divonis 65 tahun penjara di California atas 23 dakwaan, termasuk penipuan dan percobaan pembunuhan dengan merusak rem mobil.
- Kasus ini menyoroti risiko kejahatan lintas negara yang melibatkan manipulasi emosional dan perencanaan matang, serta menjadi pengingat bagi investor akan pentingnya uji tuntas dalam hubungan pribadi.

Seorang investor veteran asal Shenzhen, China, mengungkapkan perjuangannya selama sembilan tahun dan biaya mencapai 13 juta yuan (sekitar Rp30 miliar) untuk membawa mantan istrinya, yang diduga melakukan penipuan dan percobaan pembunuhan, ke meja hijau. Kisah Li Ping ini menjadi viral setelah ia membagikannya dalam sebuah video berdurasi 15 menit yang telah ditonton puluhan ribu kali.
Li Ping, 52 tahun, mengaku telah mengumpulkan kekayaan lebih dari 70 juta yuan dari investasi saham antara 1996 hingga 2014. Pada pertengahan 2014, ia bertemu Zhang Shudan, seorang manajer akun di bank milik negara, dalam sebuah forum. Keduanya berasal dari Hanzhong, Provinsi Shaanxi. Zhang, yang 11 tahun lebih muda, menceritakan kisah pilu tentang masa kecilnya yang miskin namun berhasil masuk universitas ternama. Belakangan, Li menyadari bahwa Zhang kemungkinan telah mengetahui latar belakangnya sebelum mendekatinya.
Hubungan mereka berlangsung cepat. Li yang saat itu sudah bercerai, menyetor 20 juta yuan di bank tempat Zhang bekerja. Zhang kemudian meminjam uang berulang kali dengan alasan biaya pengobatan orang tua angkatnya. Pada awal 2015, Zhang menyatakan kekagumannya dan ingin merawat Li serta memiliki anak bersamanya. Pada Maret 2015, Zhang mengaku hamil. Li pun membeli apartemen seharga 7,5 juta yuan atas nama Zhang, dan mereka menikah di kampung halaman.
Namun, sehari setelah pernikahan, kecelakaan mobil terjadi saat Li berkendara kembali ke Shenzhen. Belakangan ia mengetahui bahwa rem mobilnya telah dirusak oleh Zhang dan seorang komplotan. โJika dia hanya ingin menipu uang saya, saya tidak akan mengejar masalah ini. Tapi dia tidak boleh merusak mobil saya dalam upaya membunuh saya. Rencananya jelas untuk mewarisi semua aset saya sebagai istri,โ ujar Li dalam video yang viral itu.
Setelah kecelakaan, Zhang menghilang dan diketahui telah terbang ke Los Angeles via Hong Kong. Ia membawa semua uang, sertifikat kepemilikan empat apartemen, dan dokumen identitas. Li kemudian menghabiskan bertahun-tahun melacaknya, menawarkan hadiah US$1 juta, menyewa pengacara dan detektif swasta di China dan AS. Upaya ini memakan biaya total 13 juta yuan.
Polisi Los Angeles akhirnya menemukan Zhang dan bayinya. Tes DNA membuktikan bayi tersebut bukan anak biologis Li. Pada 2020, pengadilan Shenzhen membatalkan pernikahan mereka dan memerintahkan pengembalian empat apartemen kepada Li. Pada 2024, pengadilan California menjatuhkan hukuman 65 tahun penjara kepada Zhang atas 23 kejahatan, termasuk penipuan, imigrasi ilegal, penculikan anak, dan perdagangan manusia.
Kisah ini menjadi pengingat akan bahaya penipuan yang dirancang rapi, terutama yang melibatkan hubungan personal dan lintas yurisdiksi. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi, di mana pelaku memanfaatkan kepercayaan korban untuk menguras harta, bahkan hingga ancaman keselamatan jiwa. Para ahli menyarankan agar investor dan masyarakat umum selalu melakukan verifikasi latar belakang pasangan, terutama jika melibatkan transaksi keuangan besar.
Li Ping kini mengaku mengubah tujuan hidupnya. โSebelumnya, tujuan saya adalah membangun keluarga dan memiliki anak. Sekarang, saya ingin berbagi pengetahuan investasi saya dengan masyarakat,โ katanya. Pertanyaannya, apakah sistem hukum di berbagai negara sudah cukup kuat untuk melindungi korban penipuan lintas negara, atau masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan?



