India Gelontorkan Rp200 Triliun untuk Program Semikonduktor Baru
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah India menyetujui paket insentif senilai lebih dari US$13 miliar untuk mempercepat produksi chip dalam negeri melalui inisiatif Semicon 2.0.
- Program ini merupakan kelanjutan dari skema sebelumnya yang berhasil melahirkan 12 proyek manufaktur, termasuk fasilitas perakitan Micron Technology.
- Langkah ini berpotensi menggeser rantai pasok semikonduktor global dan membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi serupa di kawasan Asia.

India kembali menunjukkan ambisinya menjadi pusat manufaktur elektronik dunia dengan meluncurkan program semikonduktor tahap kedua yang menawarkan bantuan finansial lebih dari US$13 miliar (sekitar Rp200 triliun). Keputusan ini diambil di tengah perlombaan global mengamankan pasokan chip pasca-gangguan rantai pasok akibat pandemi dan ketegangan geopolitik.
Kabinet Serikat India pada Rabu (15/7) menyetujui inisiatif bernama "Semicon 2.0" yang merupakan perluasan dari program sebelumnya, Semicon 1.0, yang diluncurkan pada 2021. Program baru ini bertujuan memperkuat ekosistem semikonduktor lokal, mendorong produksi bahan baku dalam negeri, serta menarik pabrikan global untuk mendirikan pabrik fabrikasi di India. Pemerintah India menyadari perlunya dukungan berkelanjutan jangka panjang agar negara itu bisa masuk peta semikonduktor dunia.
Skema Semicon 1.0 sebelumnya menawarkan subsidi hingga 50% biaya pendirian proyek chip. Hasilnya, 12 proyek manufaktur di segmen fabrikasi, pengemasan, dan terkait telah diluncurkan, dengan setidaknya tiga di antaranya sudah memasuki produksi komersial. Salah satu yang menonjol adalah fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor milik raksasa memori AS, Micron Technology.
Bagi Indonesia, langkah India ini menjadi sinyal penting. Sebagai sesama negara berkembang di Asia dengan populasi besar dan pasar digital yang tumbuh, Indonesia memiliki potensi serupa untuk mengembangkan industri semikonduktor. Namun, hingga saat ini Indonesia belum memiliki kebijakan insentif sebesar India. Para pengamat menilai bahwa tanpa dukungan fiskal yang signifikan, Indonesia akan kesulitan bersaing menarik investasi pabrik chip di tengah persaingan ketat dengan India, Vietnam, dan Malaysia.
Menurut analis industri, keberhasilan India dalam menarik Micron dan proyek-proyek lain menunjukkan bahwa kombinasi insentif finansial, stabilitas regulasi, dan tenaga kerja terampil menjadi kunci. Indonesia perlu segera merumuskan peta jalan semikonduktor nasional jika tidak ingin tertinggal dalam rantai pasok global yang sedang direkonfigurasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia mampu meniru langkah India dengan menyediakan paket insentif kompetitif, atau justru akan menjadi pasar bagi produk chip India yang semakin mandiri? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta industri elektronik Asia.



