Filipina Gelar Simulasi Penembakan Massal di Sekolah: Respons atas Tragedi yang Mengguncang Negeri
Baca dalam 60 detik
- Dua siswa remaja di Tacloban City menembak mati tiga teman sekolah dan melukai 20 lainnya pada Juni lalu, mendorong pemerintah Filipina menggelar latihan penanganan penembakan massal di sekolah.
- Menteri Pendidikan Sonny Angara mengaitkan meningkatnya kekerasan dengan paparan media sosial berbahaya dan rekrutmen kelompok teroris online, serta berjanji memperluas simulasi ke seluruh sekolah negeri.
- Serikat Guru Filipina mengingatkan agar fokus pada pencegahan, bukan sekadar latihan, karena kondisi yang memicu ketidakamanan belum diatasi secara fundamental.

Filipina memulai langkah darurat keamanan sekolah dengan menggelar simulasi penembakan massal (active shooter drill) untuk pertama kalinya, menyusul insiden langka di Kota Tacloban pada Juni lalu yang menewaskan tiga siswa dan melukai 20 lainnya. Dalam latihan yang digelar di Manila Science High School pada Rabu (15/7), ratusan siswa dan guru berlatih membarikade kelas menggunakan meja dan kursi, serta menjaga keheningan saat seorang aktor bersenjata berjaket hitam menyusuri lorong dan ruangan.
Menteri Pendidikan Sonny Angara mengakui bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan semakin mengkhawatirkan. “Kami menyadari peningkatan insiden kekerasan akibat paparan situs media sosial yang merusak, pengaruh buruk, dan kelompok teroris yang aktif merekrut secara daring,” ujarnya kepada wartawan. Angara menambahkan bahwa pihaknya harus kreatif dan menyesuaikan diri dengan modus operandi pelaku, serta akan mereplikasi latihan serupa di seluruh sekolah negeri Filipina.
Tragedi di Tacloban terjadi ketika dua siswa berusia 14 dan 15 tahun diduga mencuri pistol milik kerabat mereka dan melepaskan tembakan di sekolah. Peristiwa itu mengejutkan negara berpenduduk 113 juta jiwa, di mana penembakan di sekolah dan kekerasan massal di lingkungan pendidikan sangat jarang terjadi. Meskipun Filipina memiliki undang-undang kepemilikan senjata yang ketat, lemahnya penegakan hukum membuat akses terhadap senjata semakin mudah.
Julie Anne Ramirez, seorang guru di Manila Science High School, menekankan pentingnya kesiapsiagaan. “Sebelumnya kami tidak menganggap ini sebagai bagian dari keadaan darurat. Kini penting untuk mempersiapkan siswa jika benar-benar ada penembak aktif,” katanya. Seorang siswa kelas 12, Josephine Mikaela Segarra, mengaku merasa lebih aman mengetahui pihak berwenang memikirkan keselamatan mereka.
Di kawasan Asia Tenggara, insiden penembakan di sekolah masih jarang terjadi, berbeda dengan Amerika Serikat yang mencatat ratusan insiden senjata api di lingkungan sekolah dalam satu dekade terakhir. Namun, negara-negara tetangga mulai meningkatkan kewaspadaan. Thailand, misalnya, telah menggelar latihan penembakan massal setelah tragedi di Nong Bua Lamphu pada 2022, di mana seorang mantan polisi menewaskan 36 orang, sebagian besar anak-anak, dengan senjata api dan pisau.
Meski latihan kesiapsiagaan dinilai dapat menyelamatkan nyawa, serikat guru Alliance of Concerned Teachers-Philippines mengingatkan agar pemerintah tidak melupakan upaya pencegahan. Dalam pernyataan di Facebook pekan lalu, kelompok itu menegaskan, “Sekolah harus tetap menjadi zona damai dan aman yang sesungguhnya, bukan tempat di mana latihan penembak aktif menjadi kebutuhan rutin karena kondisi yang memicu ketidakamanan tidak pernah diatasi.”
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan media sosial dan penguatan regulasi senjata api. Meskipun kasus penembakan di sekolah masih sangat jarang di Tanah Air, paparan konten kekerasan dan potensi radikalisasi daring tetap menjadi ancaman yang perlu diantisipasi. Pertanyaan yang muncul: apakah sistem pendidikan dan keamanan kita sudah cukup tangguh untuk mencegah tragedi serupa, atau justru akan mengikuti jejak Filipina dengan menjadikan simulasi bencana sebagai rutinitas baru?



