Kerugian Investasi Berujung Tikaman: Finfluencer di Korsel Diserang Subscriber
Baca dalam 60 detik
- Seorang subscriber menikam YouTuber investasi saham di Busan karena rugi besar mengikuti rekomendasinya.
- Polisi menangkap pelaku berusia 20-an dengan tuduhan percobaan pembunuhan; korban mengalami luka serius namun selamat.
- Kasus ini memicu perdebatan tentang tanggung jawab finfluencer dan perlindungan investor di era digital.

Seorang pemuda di Korea Selatan nekat menikam seorang YouTuber yang kerap memberikan rekomendasi saham setelah ia merugi besar mengikuti saran sang kreator konten. Insiden yang terjadi di Busan pada Minggu (13/7/2026) itu mengungkap sisi gelap hubungan antara financial influencer dan pengikutnya yang rentan mengalami kerugian.
Polisi Busan Nambu mengumumkan penangkapan pria berinisial A, 20-an, atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap B, 40-an, yang dikenal sebagai kanal YouTube investasi saham. Penyerangan terjadi sekitar pukul 08.09 waktu setempat di sebuah gedung komersial di Distrik Nam. Pelaku melarikan diri setelah aksinya, namun berhasil diringkus tak lama kemudian.
Menurut hasil penyelidikan awal, A telah melacak keberadaan B sebelum mendatanginya dengan senjata tajam. Ia langsung menyerang saat melihat korban, menyebabkan luka serius meski tidak mengancam jiwa. Polisi masih mendalami motif, namun dugaan kuat dendam akibat kerugian investasi menjadi pemicu utama.
Fenomena finfluencer—pemberi pengaruh di bidang keuangan—memang tengah marak di Korea Selatan dan Indonesia. Banyak investor ritel, terutama generasi muda, mengandalkan rekomendasi dari figur populer di media sosial tanpa verifikasi mendalam. Risiko kerugian besar pun mengintai, apalagi jika saran tersebut tidak disertai analisis fundamental yang kuat.
Di Indonesia, praktik serupa juga mengkhawatirkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah beberapa kali memperingatkan investor untuk tidak mudah tergiur rekomendasi saham dari influencer yang tidak memiliki izin sebagai penasihat investasi. Namun, pengawasan masih longgar, dan banyak finfluencer beroperasi tanpa lisensi resmi. Kasus Busan menjadi alarm bagi regulator dan pelaku pasar di Tanah Air untuk memperketat aturan dan meningkatkan literasi keuangan.
“Ini adalah konsekuensi ekstrem dari budaya ‘ikut-ikutan’ di pasar modal,” ujar seorang analis keuangan yang enggan disebut namanya. “Investor perlu sadar bahwa tidak ada jaminan keuntungan, dan setiap rekomendasi harus diverifikasi secara mandiri.”
Polisi Korsel berencana melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap apakah ada unsur premeditasi atau pengaruh faktor lain. Sementara itu, komunitas finfluencer di negara tersebut mulai khawatir akan dampak reputasi dan keamanan mereka. Pertanyaan besarnya: apakah kasus ini akan mendorong perubahan regulasi atau justru memperkuat gerakan literasi keuangan di kalangan investor ritel?



