George Lucas: AI Masa Depan Film, Tapi Jangan Serahkan Kendali ke Penonton
Baca dalam 60 detik
- George Lucas menyebut kecerdasan buatan sebagai keniscayaan yang akan mempermudah produksi film, serupa revolusi mobil menggantikan kereta kuda.
- Sutradara Star Wars itu justru mengkritik praktik Hollywood yang terlalu mengandalkan kelompok fokus, karena dianggap memberikan kekuasaan berlebihan kepada penonton.
- Pandangan Lucas kontras dengan Christopher Nolan yang memuji generasi muda karena menolak konten AI yang dianggap 'sampah' dan kembali ke cerita yang lebih nyata.

George Lucas, kreator waralaba Star Wars, meyakini kecerdasan buatan (AI) adalah masa depan industri perfilman. Namun di sisi lain, ia mengecam praktik Hollywood yang terlalu mendengarkan suara penonton lewat kelompok fokus (focus group) sebelum film dirilis. Menurutnya, pendekatan itu justru merampas peran kreatif pembuat film.
Dalam wawancara dengan A Rabbit's Foot, Lucas yang kini berusia 82 tahun dan telah menjual LucasFilm ke Disney pada 2012, menyebut AI sebagai alat yang akan membuat proses pembuatan film jauh lebih mudah. Ia menganalogikan resistensi terhadap AI seperti penolakan terhadap mobil pada masanya. “Tidak ada yang bisa Anda lakukan. Itulah kemajuan, itulah masa depan,” ujarnya.
Namun, Lucas tidak seantusias itu terhadap penggunaan kelompok fokus oleh studio. “Saya tidak suka kelompok fokus. Penonton tidak tahu apa yang ingin mereka tonton,” katanya. Ia menambahkan bahwa ketika studio mendengar ketidaksukaan penonton terhadap suatu karakter, mereka sering mengambil kesimpulan yang salah. “Mereka membiarkan penonton benar-benar membuat film. Sekarang, semuanya tentang apa yang dipikirkan penggemar. Itu bukan cara membuat film.”
Pandangan Lucas tentang AI dan kreativitas ini muncul di tengah perdebatan sengit di Hollywood. Sutradara The Odyssey, Christopher Nolan, baru-baru ini memuji generasi muda yang dengan cepat menolak konten AI yang ia sebut “sampah”. Nolan mengatakan kepada The Telegraph, “Saya belum pernah melihat penolakan massal yang secepat ini terhadap lompatan teknologi yang dianggap fundamental seumur hidup saya.”
Nolan menambahkan bahwa anak-anaknya sendiri langsung menghakimi konten AI dengan keras. “Mereka melihatnya apa adanya dengan sangat cepat—dan lebih mudah bagi mereka untuk mengidentifikasinya, karena itu tumbuh dari dunia daring yang mereka kenal betul.” Meski demikian, Nolan tidak sepenuhnya menolak AI, tetapi menekankan bahwa dalam pembuatan film, teknologi ini datang pada waktu yang salah, ketika industri justru mulai kembali ke bentuk cerita yang lebih taktil dan nyata.
Perbedaan sikap antara Lucas dan Nolan mencerminkan polarisasi di kalangan sineas. Lucas melihat AI sebagai alat yang tak terhindarkan, sementara Nolan menekankan pentingnya sentuhan manusia. Di Indonesia, diskusi serupa mulai mengemuka, terutama di kalangan pembuat film independen yang khawatir AI akan menggeser pekerjaan kreatif. Namun, adopsi AI di industri film Tanah Air masih rendah, dan regulasi terkait hak cipta konten buatan AI belum jelas.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukanlah apakah AI akan digunakan, tetapi bagaimana industri film—termasuk di Indonesia—dapat memanfaatkannya tanpa mengorbankan esensi bercerita yang autentik. Akankah AI menjadi mitra kreatif atau justru alat yang mereduksi peran sutradara?



