Jamur Kuping Tumbuh di Bawah Panel Surya: Inovasi Pertanian Jepang yang Bisa Ditiru Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Proyek agrivoltaik di Fukuchiyama, Kyoto, memadukan budidaya jamur kuping dengan pembangkit listrik tenaga surya untuk menekan emisi karbon.
- Listrik yang dihasilkan setara konsumsi 51 rumah tangga per tahun, sementara jamur kuping diolah menjadi bahan baku pengganti telur nabati.
- Target nasional mencapai 100.000 blok substrat jamur kuping di bawah panel surya, membuka peluang adopsi di Indonesia yang kaya sinar matahari.

Di bawah hamparan panel surya seluas hampir 4.000 meter persegi di Kota Fukuchiyama, Jepang, jamur kuping tumbuh subur dalam terowongan plastik. Proyek pertanian-terintegrasi-energi atau agrivoltaik ini bukan sekadar menghasilkan listrik, melainkan juga memproduksi bahan baku alternatif pengganti telur bagi mereka yang alergi atau menjalani pola makan nabati.
Fukuchiyama, kota di Prefektur Kyoto, menargetkan emisi karbon nol bersih pada 2050. Salah satu langkah konkretnya adalah memanfaatkan lahan pembangkit listrik tenaga surya untuk budidaya jamur kuping (Auricularia auricula-judae). Panen perdana dilakukan pada 30 Juni lalu, menandai sinergi antara energi terbarukan dan ketahanan pangan yang jarang ditemukan di proyek serupa.
Korporasi pertanian Sasaki, yang berbasis di Higashihiroshima, mengelola 200 blok substrat jamur di area seluas 2.000 meter persegi. Setiap blok diperkirakan menghasilkan 2 kilogram jamur per musim tanam (Juni–Oktober), dengan total panen tahunan mencapai 400 kilogram. Sistem irigasi tetes dan plastik penutup menjaga kelembapan, sementara panel surya di atasnya memberikan naungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur.
Yang menarik, jamur kuping ini tidak dijual langsung sebagai sayuran, melainkan diolah menjadi bahan baku produk pengganti telur. Langkah ini menyasar dua segmen: penderita alergi telur dan konsumen yang menghindari produk hewani. Di Jepang, permintaan terhadap alternatif telur terus meningkat seiring kesadaran akan kesehatan dan lingkungan. Inovasi ini sekaligus menjawab tantangan pemanfaatan lahan di bawah panel surya yang kerap dibiarkan kosong.
Bagi Indonesia, model agrivoltaik jamur kuping menawarkan peluang menarik. Negara tropis dengan intensitas sinar matahari tinggi memiliki potensi besar mengadopsi sistem serupa. Jamur kuping sendiri sudah dikenal luas dalam masakan Asia, termasuk Indonesia, dan memiliki nilai ekonomi yang stabil. Jika dikombinasikan dengan program energi surya atap atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala kecil, petani bisa mendapatkan dua sumber pendapatan sekaligus: hasil panen dan penjualan listrik.
Namun, tantangan utama adalah investasi awal yang tinggi dan kebutuhan pendampingan teknis. Pemerintah daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat atau Nusa Tenggara, bisa menjadikan proyek Fukuchiyama sebagai referensi dalam merancang kawasan pertanian-terintegrasi-energi. Apalagi, Jepang telah membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan akademisi—melalui platform co-creation—mampu mempercepat transisi menuju kota nol karbon.
Ke depan, skala proyek ini akan terus diperbesar. Sasaki telah memulai budidaya serupa di Kyotamba, Prefektur Kyoto, dengan 1.600 blok substrat sejak tahun lalu. Jika target 100.000 blok tercapai, Jepang akan memiliki ladang jamur di bawah panel surya yang mampu memproduksi ratusan ton per tahun. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengikuti jejak ini dan mengubah lahan tidur di bawah PLTS menjadi ladang produktif?



