Pemenang America's Next Top Model Bela Tyra Banks: Docuseries Netflix Tidak Seimbang
Baca dalam 60 detik
- Eva Marcille, pemenang ANTM 2004, mengecam docuseries Netflix sebagai tidak objektif dan hanya menyajikan satu sisi cerita.
- Tyra Banks menggugat Netflix setelah merasa potongan wawancaranya diedit secara tendensius hingga merusak reputasinya.
- Kasus ini menyoroti praktik produksi dokumenter yang kerap mengorbankan fakta demi narasi dramatis.

Eva Marcille, pemenang America's Next Top Model musim ketiga yang tayang pada 2004, angkat bicara membela Tyra Banks di tengah kontroversi docuseries Netflix Reality Check: Inside America's Next Top Model. Dalam wawancara dengan Andy Cohen di acara Watch What Happens Live, Marcille menilai serial dokumenter tersebut berat sebelah dan sengaja mengabaikan perspektif yang tidak sesuai dengan narasi yang ingin dibangun produser.
Marcille mengaku tidak pernah diminta berpartisipasi dalam produksi docuseries itu. Menurutnya, tim produksi sadar bahwa pandangannya tentang Tyra Banks akan bertentangan dengan alur cerita yang sudah dirancang. "Mereka tidak pernah menghubungi saya karena partisipasi saya akan merusak keseluruhan narasi mereka," ujar Marcille. Ia juga menyebut serial itu sebagai "sangat tidak seimbang" dan "sangat bias".
Komentar Marcille memperkuat posisi Tyra Banks yang sebelumnya telah menggugat Netflix ke pengadilan. Banks mengklaim bahwa dari wawancara selama tiga setengah jam, hanya 16 menit yang ditayangkanโdan potongan itu diambil di luar konteks untuk mendukung gambaran palsu yang mencemarkan namanya. Dalam dokumen gugatan yang diperoleh People, Banks menegaskan bahwa ia bersedia diwawancarai karena ingin berbicara jujur tentang warisan ANTM, termasuk kekurangannya. Namun, pengakuan dan tanggung jawab yang ia sampaikan justru diedit.
Gugatan Banks menyoroti praktik produksi dokumenter yang kerap mengaburkan batas antara fakta dan dramatisasi. Banks menekankan bahwa Netflix menjual serial ini sebagai "kronik definitif" ANTM, sehingga penonton berhak mendapatkan sajian faktual, bukan narasi yang direkayasa. Ia meminta juri menentukan jumlah kerugian yang pantas, termasuk kerugian akibat hilangnya kesempatan bisnis di masa depan.
Di Indonesia, kasus ini relevan dengan maraknya produksi dokumenter dan serial biografi yang mengangkat kisah kontroversial. Praktik editing selektif demi menciptakan ketegangan naratif kerap dikeluhkan oleh subjek yang merasa dirugikan. Belum ada regulasi spesifik yang mengatur keharusan menyajikan sudut pandang berimbang dalam dokumenter, sehingga kasus seperti ini bisa menjadi preseden penting bagi industri kreatif nasional.
Ke depan, pertarungan hukum antara Tyra Banks dan Netflix akan menjadi ujian bagi batasan kreatif dalam produksi dokumenter. Apakah pengadilan akan menganggap bahwa dokumenter tetap harus tunduk pada standar faktualitas, atau justru memberi ruang lebih luas bagi interpretasi sutradara? Jawabannya akan berdampak tidak hanya bagi para pembuat film, tetapi juga bagi figur publik yang menjadi subjeknya.



