Sentimen Manufaktur Jepang Stabil di Tengah Lonjakan Permintaan Chip, Sektor Jasa Tertekan Biaya
Baca dalam 60 detik
- Indeks sentimen manufaktur Jepang bertahan di +13 pada Juli, didorong permintaan semikonduktor dan AI server yang memecahkan rekor.
- Sektor non-manufaktur merosot ke +25 akibat kenaikan biaya energi dan ketidakpastian konflik Timur Tengah, memperkuat tekanan inflasi.
- Bank of Japan mewaspadai dampak perang Iran terhadap harga, sementara inflasi grosir Jepang mencapai 6,3%โlevel tertinggi dalam tiga tahun.

Survei terbaru Reuters Tankan mengindikasikan bahwa sektor manufaktur Jepang masih optimistis pada Juli 2024, ditopang oleh permintaan semikonduktor yang menguat, sementara sektor jasa justru tertekan oleh kenaikan biaya akibat konflik geopolitik dan pelemahan yen. Indeks sentimen manufaktur bertahan di angka plus-13, sama dengan bulan sebelumnya, menandakan ekspektasi positif yang stabil di kalangan produsen.
Kenaikan permintaan chip memori dan komponen untuk server kecerdasan buatan (AI) menjadi motor utama optimisme ini. Sejumlah perusahaan melaporkan volume dan nilai pesanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan memicu kekhawatiran akan keterbatasan kapasitas produksi. "Pesanan dan nilainya berada di level yang belum pernah kami lihat sebelumnya, dan kami khawatir dengan kapasitas produksi," ujar seorang manajer di perusahaan peralatan presisi.
Di sisi lain, sektor non-manufaktur mengalami penurunan sentimen dari plus-32 menjadi plus-25. Tekanan biaya yang berasal dari konflik Israel-Iran, yen yang lemah, serta kenaikan suku bunga menjadi beban utama. Seorang manajer di sektor jasa mengatakan bahwa meskipun ada tanda-tanda penyelesaian masalah Timur Tengah, situasi belum sepenuhnya pulih.
Bank of Japan (BOJ) sebelumnya merilis survei Tankan kuartalan yang menunjukkan sentimen bisnis mencapai level tertinggi dalam delapan tahun, namun juga mencatat ekspektasi inflasi korporasi yang memecahkan rekor. Gubernur BOJ mengisyaratkan kehati-hatian terhadap inflasi, terutama karena konflik Iran diperkirakan akan mendorong lebih banyak perusahaan menaikkan harga pada akhir tahun. Meskipun AS dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni, ketegangan masih tinggi dengan saling serangan rudal.
Bagi Indonesia, kondisi ini relevan mengingat Jepang adalah mitra dagang utama dan investor signifikan di sektor manufaktur dan infrastruktur. Kenaikan biaya input di Jepang berpotensi mendorong kenaikan harga barang modal dan komponen elektronik yang diimpor Indonesia. Di sisi lain, permintaan chip yang kuat dapat membuka peluang bagi ekspor komoditas terkait, seperti timah dan tembaga, yang banyak digunakan dalam industri semikonduktor.
Ke depan, produsen Jepang memperkirakan sentimen akan tetap stabil, dengan indeks diprediksi naik tipis ke plus-14 pada Oktober. Sektor non-manufaktur diperkirakan bertahan di plus-25, seiring para pelaku bisnis mencermati dampak risiko geopolitik dan gangguan rantai pasok. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah BOJ akan menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi tanpa menghambat pemulihan ekonomi yang masih rapuh.



