Andy Serkis Tolak 'Casting PC' di Film Lord of the Rings: Hanya Jika Relevan
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Andy Serkis menegaskan tidak akan memaksakan keberagaman dalam pemain 'The Hunt for Gollum' demi menghindari kritik.
- Film yang dirilis 2027 ini akan fokus pada psikologi Gollum dan latar antara trilogi The Hobbit dan The Lord of the Rings.
- Kritik terhadap minimnya diversitas dijawab Serkis dengan merujuk pada latar mitologi Nordik yang melekat pada cerita Tolkien.

Andy Serkis, sutradara film terbaru waralaba Lord of the Rings, menegaskan bahwa ia tidak akan melakukan 'politically correct casting' atau pemain yang dipaksakan demi keberagaman semata. Dalam wawancara dengan BBC, Serkis menyebut bahwa pemilihan aktor akan tetap mengacu pada relevansi cerita, bukan sekadar memenuhi tuntutan representasi.
Film berjudul The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum ini dijadwalkan rilis pada 2027 dan telah mengumumkan deretan bintang seperti Kate Winslet, Jamie Dornan, Anya Taylor-Joy, serta kembalinya Elijah Wood sebagai Frodo dan Ian McKellen sebagai Gandalf. Namun, pengumuman tersebut memicu kritik dari sebagian pihak karena minimnya keberagaman etnis dalam jajaran pemain.
Menanggapi hal itu, Serkis menjelaskan bahwa dunia Middle-earth karya J.R.R. Tolkien sangat dipengaruhi oleh mitologi Nordik. "The Shire terasa sangat putih. Mereka tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di luar perbatasan, tapi mereka tahu tidak ingin orang asing masuk," ujarnya. Ia menambahkan bahwa filmnya akan "sedikit mengakui" kurangnya diversitas, tetapi tidak akan melakukan casting yang sekadar mencentang kotak.
Secara plot, Serkis mengungkapkan bahwa film ini akan menjadi "penyelaman mendalam ke dalam psikologi dan sejarah Gollum sebelum ia menjadi Gollum," serta menyelidiki asal-usul cincin yang dimiliki Bilbo Baggins. "Perburuan terjadi di dua dimensi berbeda," katanya, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Kontroversi lain muncul setelah Anya Taylor-Joy, salah satu pemeran baru, mengaku belum membaca buku Lord of the Rings. Dalam wawancara dengan Variety, ia mengatakan, "Sebagai anak-anak, saya punya pemikiran salah bahwa Anda hanya bisa menjadi penggemar Harry Potter atau Lord of the Rings. Tidak ada yang memberitahu saya. Saya memikirkannya sendiri." Ia baru menonton seluruh film selama pandemi dan menyadari bahwa keduanya bisa dicintai bersamaan.
Bagi penggemar di Indonesia, perdebatan tentang representasi dalam film adaptasi bukanlah hal baru. Industri perfilman Tanah Air juga kerap menghadapi tuntutan serupa terkait keberagaman etnis dan budaya. Namun, keputusan Serkis untuk tetap setia pada latar mitologis Tolkien bisa menjadi pelajaran bahwa kesetiaan pada sumber asli kadang lebih diutamakan daripada tekanan sosial. Pertanyaannya, akankah pendekatan ini tetap relevan di tengah tren industri yang semakin mengedepankan inklusivitas?



