Kebakaran Maut di Bangkok: 30 Tewas Terjebak di Toilet Tanpa Jendela
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di bar musik Bangkok menewaskan sedikitnya 30 orang, sebagian besar akibat menghirup asap di toilet tanpa ventilasi.
- Penyelidikan awal mengarah pada korsleting listrik di panggung dan dugaan pintu darurat yang terkunci, menghambat evakuasi.
- Tragedi ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperketat pengawasan keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam.

Kebakaran hebat yang melanda sebuah bar musik di Bangkok pada Minggu malam (14/7) menewaskan sedikitnya 30 orang, menjadikannya tragedi paling mematikan di ibu kota Thailand dalam 17 tahun terakhir. Sebagian besar korban ditemukan terperangkap di toilet tanpa jendela di bagian belakang gedung, diduga berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang dengan cepat melahap bangunan satu lantai tersebut.
Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, mengonfirmasi bahwa mayoritas kematian disebabkan oleh menghirup asap. Api mulai berkobar sekitar pukul 22.00 waktu setempat di kawasan Lat Phrao, dan butuh waktu 30 menit bagi petugas pemadam untuk menjinakkan si jago merah. Selain korban tewas, 24 orang lainnya dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.
Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Kittharath Punpetch, yang mengunjungi lokasi kejadian pada Senin pagi, mengungkapkan bahwa sebagian besar jenazah ditemukan di kamar mandi dekat pintu keluar belakang. Sayangnya, pintu darurat tersebut tidak digunakan karena terhalang meja yang digunakan untuk menjual permen, dan area sekitarnya gelap gulita akibat listrik padam. Akses ke pintu keluar lain di dekat dapur juga dipersempit oleh rak dan lemari penyimpanan. Bahkan, terdapat indikasi bahwa beberapa pintu darurat mungkin terkunci dari luar.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan keterangan dari seorang musisi yang sedang tampil saat kejadian. Musisi tersebut melihat asap keluar dari pemutus sirkuit di dekat panggung sebelum listrik padam. Tak lama kemudian, terdengar ledakan dan asap tebal memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan pengunjung berhamburan keluar sementara api dan asap hitam membumbung tinggi ke langit.
Tim forensik kini fokus memeriksa langit-langit di atas panggung, di mana ditemukan bahan-bahan yang diduga digunakan sebagai elemen dekoratif. Polisi akan menyelidiki apakah material mudah terbakar digunakan di interior bangunan dan bagaimana instalasi kabel listrik di langit-langit. Pemilik bar, yang mengalami luka parah dan dirawat di ICU, telah menyampaikan permintaan maaf dan dukungan penuh terhadap penyelidikan melalui pernyataan di Facebook.
Kisah pilu datang dari Keo Oudone Poungpany, 24 tahun, seorang pekerja migran asal Laos yang kehilangan adiknya dalam kebakaran tersebut. Keduanya bekerja sebagai pegawai bar. Saat kebakaran terjadi, Poungpany sedang di toilet luar dan selamat, namun adiknya terjebak di dalam. โPanasnya tak tertahankan, saya tidak bisa masuk kembali. Sekarang saya hanya ingin membawa pulang jenazah adik saya ke kampung halaman,โ ujarnya di Institute of Forensic Medicine Bangkok, tempat keluarga korban mengidentifikasi jenazah.
Konteks Indonesia
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi Indonesia, terutama mengingat maraknya tempat hiburan malam di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Banyak bar dan klub malam di Indonesia yang belum sepenuhnya mematuhi standar keselamatan kebakaran, seperti ketersediaan pintu darurat yang jelas, alat pemadam api ringan (APAR), dan jalur evakuasi yang bebas hambatan. Insiden serupa pernah terjadi di Indonesia, seperti kebakaran di pusat perbelanjaan atau diskotek yang menelan korban jiwa. Pemerintah daerah perlu segera melakukan inspeksi mendadak dan menindak tegas pelanggaran, terutama terkait penggunaan material mudah terbakar dan penghalang akses darurat.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: sejauh mana kesiapan tempat hiburan di Indonesia menghadapi situasi darurat? Akankah tragedi Bangkok mendorong perubahan regulasi yang lebih ketat, atau hanya menjadi berita sesaat yang terlupakan begitu saja?



