Karhutla Gunung Gombak Hanguskan 15 Hektare, Petugas Berjibaku 8 Jam
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Gombak, Ponorogo, menghanguskan 15 hektare lahan sejak Senin sore hingga Selasa dini hari.
- Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan memadamkan api secara manual selama delapan jam, api sempat mendekati permukiman.
- BPBD mengimbau kewaspadaan di musim kemarau, dengan mencatat karhutla juga terjadi di tiga kecamatan lain.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Gombak atau Gunung Nglarangan di Dukuh Karanggayam, Desa Sukosari, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, sejak Senin (13/7) sore hingga Selasa (14/7) dini hari. Sekitar 15 hektare lahan dilaporkan hangus.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo Masun mengatakan api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 15.00 WIB, Senin. Api berasal dari bagian bawah lereng dan menjalar ke atas. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Kobaran api awalnya membakar sisi utara Gunung Gombak sebelum merambat ke arah barat, timur, hingga sebagian sisi selatan kawasan gunung tersebut.
Petugas gabungan berjibaku selama kurang lebih delapan jam untuk memadamkan api. Proses pemadaman dilakukan secara manual dengan melibatkan personel BPBD, TNI, Polri, Perhutani, relawan, pemerintah desa, dan warga sekitar, menggunakan alat sederhana seperti gepyok serta membuat sekat bakar untuk mencegah api meluas ke area lain. Pemadaman dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dan api baru benar-benar padam sekitar tengah malam.
Kobaran api sempat mendekati permukiman warga dengan jarak sekitar 100 meter. Meski demikian, Masun memastikan api tidak sampai merembet ke rumah penduduk. Petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Selain di Gunung Gombak, BPBD Ponorogo juga mencatat sejumlah kejadian karhutla di wilayah lain, di antaranya Kecamatan Sampung, Sambit, dan Balong. Hal ini menunjukkan bahwa musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran di berbagai titik. BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak membakar lahan maupun meninggalkan sumber api di kawasan terbuka. "Apabila terpaksa membuat api untuk keperluan tertentu, pastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi," kata Masun.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Dengan luas lahan yang terbakar mencapai 15 hektare, upaya pencegahan dan respons cepat menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian ekologis dan ancaman terhadap permukiman. Pertanyaan yang muncul: apakah pemerintah daerah telah memiliki strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko karhutla di kawasan rawan seperti Gunung Gombak?



