Kaligrafer Generasi Ketiga Hibakusha: Seni Tulis sebagai Jalan Damai
Baca dalam 60 detik
- Hiromi Kouchi, seniman kaligrafi asal Hiroshima, menggunakan karyanya untuk menyebarkan pesan perdamaian lintas negara.
- Sebagai cucu korban bom atom, ia menggabungkan tradisi kaligrafi dengan simbol perdamaian modern, seperti origami burung bangau.
- Kouchi bercita-cita mengadakan lokakarya interaktif di luar negeri untuk mengajak masyarakat merenungkan arti perdamaian.

Seorang kaligrafer asal Hiroshima, Hiromi Kouchi, menjadikan seni tulisnya sebagai medium untuk menyuarakan perdamaian global. Perempuan 46 tahun yang merupakan generasi ketiga penyintas bom atom (hibakusha) ini tidak hanya menguasai berbagai aliran kaligrafiโdari gaya klasik hingga avant-gardeโtetapi juga aktif menggelar pameran dan pertunjukan di dalam maupun luar negeri.
Kouchi, yang menggunakan nama panggung Hiro, mulai belajar kaligrafi sejak sekolah dasar. Pertemuannya dengan seorang guru di klub kaligrafi SMA Yasunishi, Hiroshima, menjadi titik balik yang mengubah hobinya menjadi panggilan hidup. Ia kemudian mendalami seni ini di Jurusan Kaligrafi Universitas Yasuda, fokus pada peniruan karya-karya klasik. Setelah lulus, ia sempat mengajar bahasa Jepang dan kaligrafi di sejumlah SMP dan SMA di Hiroshima sebelum membuka sekolah kaligrafi sendiri pada 2003.
Namun, kesibukan yang padat membuatnya jatuh sakit dan mulai mempertanyakan arah hidup. Sang suami mendorongnya untuk melakukan apa yang benar-benar diinginkan. Momen itu menjadi titik awal Kouchi mendedikasikan diri pada aktivitas perdamaian, isu yang erat dengan latar belakang keluarganya. Kedua kakek-neneknya adalah hibakusha, dan ia tumbuh di Hiroshima dalam lingkungan yang menjadikan pendidikan perdamaian sebagai hal wajar. Setelah putra sulungnya lahir pada 2013, tekadnya semakin kuat: "Saya ingin dunia yang damai tanpa perang berlanjut ke generasi anak-anak ini."
Meski tumbuh dengan pendidikan perdamaian, Kouchi mengaku sempat trauma. Saat SD, ia dan seluruh siswa dikumpulkan di gymnasium dan diperlihatkan foto hitam-putih korban luka bakar parah. Syok membuatnya pulang sambil menangis, dan neneknya menghiburnya. Sang nenek tak pernah bercerita tentang pengalamannya saat bom dijatuhkan, hanya berkata, "Perang tak akan terjadi lagi, jadi jangan khawatir." Pengalaman itu membentuk pendekatan Kouchi: ia ingin menyampaikan pesan damai tanpa menakut-nakuti.
Karya-karyanya kerap memadukan kata-kata damai dengan simbol visual. Untuk Japan Expo di Prancis, ia menuliskan kata "Hiroshima" berulang kali membentuk burung bangau origami, dengan tulisan "paix" (damai dalam bahasa Prancis) di atasnya. Di Japan Fes New York, ia memajang karya dengan aksara besar "cinta" yang dilapisi tulisan emas "Love glows" dan "love shines". "Di luar negeri, saya ingin orang melihat kaligrafi dulu, lalu saya ceritakan bahwa saya hibakusha generasi ketiga dari Hiroshima," ujarnya. "Melalui karya, saya berharap memberi kesempatan kecil untuk merenungkan perdamaian."
Impiannya adalah mengadakan acara interaktif di luar negeri, di mana ia bisa menulis kata-kata seperti "cinta" dan "damai" bersama peserta dari berbagai negara. "Intinya, perdamaian adalah kepedulian terhadap sesama. Saya percaya ketika kita masing-masing mendoakan kebahagiaan orang yang kita sayangi, itu akan mengarah pada perdamaian," katanya.
Bagi Indonesia, kisah Kouchi relevan mengingat sejarah bangsa yang juga pernah mengalami konflik dan kekerasan massal. Seni sebagai medium rekonsiliasi dan edukasi perdamaian bisa menjadi inspirasi bagi komunitas seni dan pendidikan di Tanah Air. Pertanyaannya, mampukah seni menjembatani luka masa lalu dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih damai?



