Misi Bersama di Tengah Ketegangan: NASA dan Roscosmos Kirim Kru ke ISS
Baca dalam 60 detik
- Astronot NASA dan dua kosmonot Rusia berhasil mencapai ISS dalam misi bersama yang langka, menandai kunjungan pertama kepala NASA ke Baikonur sejak 2018.
- Kerja sama antariksa AS-Rusia bertahan di tengah konflik Ukraina dan kebocoran udara di stasiun yang menua, didorong oleh ketergantungan teknis timbal balik.
- Misi ini menguji masa depan ISS yang akan pensiun setelah 2030, dengan potensi dampak pada program luar angkasa komersial dan kolaborasi global.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, kepala NASA menginjakkan kaki di Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, menyaksikan peluncuran roket Soyuz yang membawa kru campuran Amerika-Rusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Misi yang berlangsung Selasa (14/7) itu tidak hanya menandai kembalinya penerbangan berawak dari landasan yang baru diperbaiki, tetapi juga menjadi ujian bagi kelangsungan kerja sama antariksa dua negara adidaya di tengah rivalitas geopolitik yang memanas.
Astronot NASA Anil Menon bersama kosmonot Pyotr Dubrov dan Anna Kikina lepas landas menggunakan Soyuz MS-29 pukul 10.47 waktu setempat. Mereka tiba di ISS tiga jam kemudian, bergabung dengan tujuh awak lain yang sudah berada di laboratorium orbital seukuran lapangan sepak bola itu. Bagi Menon, ini adalah penerbangan perdananya ke luar angkasa setelah menjalani pelatihan panjang sebagai dokter, pilot, dan perwira militer.
Kehadiran Administrator NASA Jared Isaacman di Baikonur menjadi sorotan. Ia bertemu langsung dengan Direktur Roscosmos Dmitry Bakanov, sebuah pertemuan yang nyaris mustahil terjadi di era kepemimpinan Bill Nelson akibat perang Rusia-Ukraina. Isaacman, miliarder yang juga pernah terbang ke luar angkasa dengan SpaceX pada 2024, menyebut Menon sebagai "salah satu astronaut Amerika terhebat" dalam unggahan di media sosial.
Ketegangan antara Washington dan Moskow tidak serta-merta menghentikan denyut nadi ISS. Stasiun yang telah beroperasi 27 tahun itu bergantung pada panel surya buatan AS untuk pasokan listrik, sementara pendorong Rusia menjaga orbitnya tetap stabil. "Keduanya saling membutuhkan secara teknis," ujar analis antariksa yang enggan disebutkan. Namun, hubungan itu diuji oleh kebocoran udara yang kian parah di modul lama. Bulan lalu, NASA sempat memerintahkan evakuasi darurat setelah berselisih dengan Roscosmos soal metode perbaikan โ kosmonot berencana menggunakan gergaji untuk mengakses sumber bocor, yang dinilai terlalu berisiko oleh pihak AS.
Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi sains di tengah fragmentasi global. Meski belum memiliki program astronot mandiri, Indonesia mulai melirik peluang komersial lewat satelit dan riset mikrogravitasi. Keberlanjutan ISS hingga 2030 โ dan potensi stasiun swasta setelahnya โ membuka celah bagi negara berkembang untuk berpartisipasi dalam ekonomi luar angkasa yang diperkirakan bernilai triliunan dolar.
Pertemuan Isaacman dan Bakanov diyakini membahas masa pensiun ISS serta kemungkinan kerja sama di Bulan. Namun, belum ada kesepakatan konkret yang diumumkan. Kunjungan balasan Bakanov ke Florida tahun lalu juga hanya menghasilkan diskusi tanpa proyek baru. Pertanyaannya kini: akankah dua negara yang saling curiga ini mampu mempertahankan satu-satunya laboratorium orbital umat manusia, atau justru akan membangun pos terdepan mereka sendiri di langit?



