SLB dan Liberty Energy Garap Bisnis Modul Data Center, Incar Lonjakan Permintaan AI
Baca dalam 60 detik
- SLB dan Liberty Energy berkolaborasi memasok komponen modular dan listrik untuk pusat data, menyasar kebutuhan energi dari kecerdasan buatan.
- SLB telah mengirimkan lebih dari 1,3 GW infrastruktur data center modular sejak April 2024, dengan target 2 GW akhir tahun.
- Liberty Energy menargetkan pengembangan proyek listrik hingga 3 GW pada 2029, memperkuat posisi perusahaan migas di era digital.

Dua raksasa jasa ladang minyak, SLB dan Liberty Energy, mengumumkan kemitraan untuk memasok komponen modular dan tenaga listrik ke pusat data. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan-perusahaan energi tradisional mulai serius memanfaatkan gelombang permintaan infrastruktur digital yang dipicu oleh ledakan kecerdasan buatan (AI).
Dalam kesepakatan yang diumumkan Selasa (14/7), SLB akan merancang dan menyediakan komponen modular serta prefabrikasi untuk proyek pusat data. Sementara itu, Liberty Energy akan memasok pembangkit listrik berbasis gas alam. Kolaborasi ini mencerminkan pergeseran strategis di kalangan kontraktor minyak dan gas yang mulai merambah bisnis peralatan listrik, turbin, dan solusi data.
SLB sejatinya sudah menjadi mitra desain untuk pusat data modular berbasis teknologi Nvidia. Perusahaan juga tengah mengembangkan platform bernama AI Factory for Energy bersama produsen chip asal AS tersebut. Platform ini dirancang untuk membantu perusahaan minyak, gas, dan listrik menerapkan AI pada data operasional mereka yang sangat besar.
Kemitraan ini tidak terlepas dari sejarah kedua perusahaan. Pada 2020, SLB menjual bisnis hydraulic fracturing (fracking) di Amerika Utara kepada Liberty Energy. Kini, mereka kembali bekerja sama, kali ini di ranah yang sama sekali berbeda: infrastruktur digital.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara dengan cadangan gas alam melimpah, Indonesia berpotensi menjadi pemasok energi untuk pusat data di kawasan Asia Tenggara. Namun, pengembangan pusat data juga membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan. Jika Indonesia ingin menarik investasi pusat data global, infrastruktur kelistrikan dan regulasi terkait energi hijau harus segera dibenahi.
Para analis memperkirakan bahwa permintaan listrik untuk pusat data akan terus melonjak seiring adopsi AI yang masif. Perusahaan migas yang mampu bertransformasi menjadi penyedia solusi energi digital akan memiliki posisi kompetitif yang kuat. Pertanyaannya, apakah perusahaan energi nasional Indonesia siap mengikuti jejak SLB dan Liberty?



